- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Banjir Ciliwung 3,5 Meter, Pramono Buka Jalur Air ke Laut di Tengah Peringatan Cuaca Ekstrem BMKG
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka sejumlah aliran air menuju laut untuk meredam tekanan banjir yang meluap dari Sungai Ciliwung, menyusul kenaikan signifikan muka air di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang mencapai 3,5 meter.
Langkah darurat ini diambil di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa puncak musim hujan masih berlangsung hingga Februari 2026.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kenaikan muka air terpantau di sejumlah titik krusial, termasuk Manggarai.
Kondisi pasang laut yang masih tinggi memaksa pemerintah membuka jalur-jalur air yang selama ini tidak dioperasikan agar debit dari hulu bisa segera mengalir ke laut.
“Dan tadi memang Manggarai juga sudah mengalami kenaikan dan sekarang ini mau tidak mau beberapa daerah yang selama ini tidak tersentuh harus dibuka aliran airnya supaya airnya bisa turun ke laut. Dan sekarang sudah dilakukan dari 2 jam yang lalu,” ujar Pramono di Jakarta Utara, Jumat (30/1).
Pramono berharap, pembukaan aliran ini mampu menurunkan tekanan air di sepanjang Ciliwung yang saat ini masih menunjukkan tren naik.
Menurutnya, sistem dan infrastruktur pengendalian banjir di Ciliwung sejatinya telah memadai, namun terkendala kondisi pasang laut.
“Karena kalau untuk Ciliwung sebenarnya fasilitas aliran sungainya sudah sangat baik. Termasuk pintu-pintunya sudah cukup baik. Hanya memang sekarang ini karena permukaan air lautnya juga relatif masih tinggi,” katanya.
Ia menjelaskan, aliran air dari hulu mulai masuk sejak pagi hari dan kini secara bertahap didorong ke laut sambil menunggu kondisi pasang surut membaik.
“Sehingga dengan demikian air yang dari Katulampa, dari sekarang mulai jam 09.10 pagi tadi masuk, sekarang ini pelan-pelan mulai kita apa dorong untuk ke laut,” ujarnya.
Langkah Pemprov DKI ini diambil seiring peringatan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem yang masih membayangi Jabodetabek.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, menyampaikan musim hujan telah berlangsung sejak akhir Oktober 2025 dan intensitas tertinggi diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.
“Musim hujan di wilayah Jabodetabek telah dimulai sejak akhir Oktober 2025, dengan puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026,” ujar Andri dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1).
Peringatan tersebut sejalan dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang mencatat banjir masih merendam 39 rukun tetangga (RT) dan tiga ruas jalan di empat wilayah kota hingga Jumat (30/1/2026).
Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengungkapkan dampak terparah terjadi di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
“Di Jakarta Selatan dan Timur, terutama di bantaran Sungai Ciliwung, ketinggian banjir mencapai 3,5 meter,” kata Isnawa.
Dengan puncak musim hujan yang belum terlewati dan pasang laut yang masih tinggi, Pemprov DKI bersama instansi terkait terus memantau dinamika muka air dan mengoptimalkan pengaturan pintu air guna menekan risiko banjir meluas di Ibu Kota. (agr/dpi)