news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.
Sumber :
  • Antara

Mendadak Mundur, Daryono Lepas Jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Ajukan Pensiun Dini

Daryono mundur mendadak dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG dan ajukan pensiun dini di usia 54 tahun, ini penjelasan lengkapnya.
Minggu, 15 Februari 2026 - 07:20 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kabar mengejutkan datang dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sosok yang selama ini dikenal publik sebagai wajah analisis gempa dan tsunami nasional, Daryono, resmi mengundurkan diri dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami.

Pengumuman itu datang secara mendadak. Pada Jumat (13/2/2026) sore, Daryono masih aktif membagikan informasi kondisi awan Indonesia berdasarkan pemantauan Satelit Himawari milik BMKG. Namun hanya berselang beberapa jam, pada Jumat malam, ia mengumumkan telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural eselon II yang diembannya.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Daryono menegaskan bahwa dirinya telah menyampaikan permohonan resmi kepada pimpinan BMKG. Ia juga meminta agar media tidak lagi mencantumkan atribusi jabatannya sebagai Direktur Gempabumi dan Tsunami dalam setiap pemberitaan.

“Saya telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami, sekaligus mengajukan pensiun dini dari BMKG,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Ajukan Pensiun Dini di Usia 54 Tahun

Daryono yang kini berusia 54 tahun sebenarnya belum memasuki batas usia maksimal jabatan struktural eselon II, yakni 60 tahun. Namun ia memilih mengajukan pensiun dini dan akan tetap berstatus sebagai pegawai BMKG hingga 1 Mei mendatang.

Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut juga berkaitan dengan kondisi kesehatannya. Saat ini, Daryono tengah menjalani perawatan akibat penyakit mata yang disebut distrofi kornea.

“Saya saat ini sedang sakit mata yang disebut distrofi kornea dan sedang dalam perawatan dan penanganan sehingga cuti dinas, kemudian lanjut pensiun dini,” jelasnya.

Kepala Bagian Humas BMKG, Taufan Maulana, membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, Daryono telah memasuki masa purnabakti.

“Betul, beliau sudah memasuki purnabakti,” kata Taufan saat dikonfirmasi terpisah.

Sementara itu, dalam rilis resmi terbaru BMKG, jabatan Direktur Gempabumi dan Tsunami kini diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt), Rahmat Triyono, guna memastikan kesinambungan tugas dan fungsi di bidang mitigasi gempa serta peringatan dini tsunami.

Tetap Konsisten Edukasi Publik

Meski tak lagi menjabat sebagai direktur, Daryono memastikan komitmennya untuk tetap memberikan edukasi kepada masyarakat terkait gempa bumi dan tsunami.

Sebagai seismolog, ia menyadari posisi Indonesia yang berada di kawasan cincin api atau Ring of Fire, wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi yang membuat potensi gempa dan tsunami selalu ada.

“Saya akan tetap konsisten berkontribusi sebagai ahli dan edukator publik di bidang kebencanaan, dengan tetap menjunjung tinggi objektivitas ilmiah, integritas, dan kepentingan keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Selama menjabat, Daryono dikenal aktif menyampaikan analisis gempa secara komprehensif. Ia tak hanya menyampaikan magnitudo dan lokasi episentrum, tetapi juga menjelaskan aspek sumber gempa, mekanisme patahan, sejarah kegempaan, hingga potensi dampaknya.

Tak jarang, ia meluruskan berbagai informasi keliru yang beredar di ruang publik, termasuk spekulasi soal “gempa susulan besar” atau potensi tsunami tanpa dasar ilmiah. Pendekatan komunikatifnya membuat masyarakat lebih memahami risiko kebencanaan secara rasional.

Ia menegaskan memiliki tiga tanggung jawab utama: tanggung jawab keilmuan, tanggung jawab edukasi, dan tanggung jawab moral.

“Komitmen saya terhadap edukasi publik di bidang kegempaan dan kebencanaan tidak akan berhenti,” ujarnya.

Rekam Jejak Akademik dan Karier

Daryono lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 21 Februari 1971. Ia menempuh pendidikan Diploma III di Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) pada 1993.

Pendidikan sarjananya diselesaikan di Universitas Indonesia pada Program Studi Meteorologi dan Geofisika, Jurusan Fisika FPMIPA, pada 2000. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister di Universitas Udayana pada 2002 dengan riset mengenai sifat hujan di zona iklim Pulau Bali.

Tak berhenti di situ, Daryono meraih gelar doktor Ilmu Geografi dari Universitas Gadjah Mada pada 2006. Selain aktif menulis jurnal ilmiah, ia juga menghasilkan sejumlah buku di bidang kebencanaan.

Kariernya di BMKG dimulai sebagai staf teknis di Balai MKG Wilayah III Denpasar. Pada 2005, ia aktif sebagai peneliti geofisika. Ia kemudian menjabat Kepala Subbagian Administrasi Akademik dan Ketarunaan di STMKG, hingga dipercaya memimpin Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami serta Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami.

Sejak 2022, Daryono resmi menjabat sebagai Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, posisi strategis yang membuatnya kerap tampil di hadapan publik setiap kali terjadi gempa signifikan di Indonesia maupun luar negeri.

Transisi dan Tantangan Mitigasi

Pengunduran diri Daryono tentu menjadi perhatian publik, mengingat perannya yang sentral dalam komunikasi risiko kebencanaan. Namun, BMKG memastikan transisi kepemimpinan berjalan sesuai mekanisme organisasi.

Di tengah dinamika aktivitas tektonik Indonesia, kesinambungan edukasi publik dan kecepatan informasi peringatan dini tetap menjadi prioritas. Sosok Daryono mungkin tak lagi menyandang jabatan struktural, namun komitmennya sebagai ilmuwan disebut akan terus berlanjut.

Bagi masyarakat Indonesia yang hidup di wilayah rawan gempa, literasi kebencanaan tetap menjadi kunci. Dan Daryono menegaskan, perannya sebagai pendidik publik tidak berhenti meski status jabatannya telah berubah. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:18
01:01
01:52
05:54
07:49
05:37

Viral