- Instagram @bem.ugm
Profil Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM yang Diteror Usai Kritik Ekstrem Pemerintah Prabowo-Gibran
Jakarta, tvOnenews.com - Profil Tiyo Ardianto Ketua BEM UGM yang mengaku diteror usai surati UNICEF.
Sosok Tiyo Ardianto tengah menjadi sorotan publik setelah memimpin BEM KM UGM melontarkan kritik keras kepada pemerintahan Prabowo-Gibran.
Melalui rilis resmi bertajuk "Rezim yang Bodoh dan Inkompeten", mahasiswa angkatan 2022 ini memicu polarisasi opini publik di media sosial.
- Instagram @bem.ugm
Profil Tiyo Ardianto
Tiyo Ardianto merupakan mahasiswa Program Sarjana Filsafat di Universitas Gadjah Mada.
Tiyo terdaftar sebagai mahasiswa UGM dengan NIM 21476866FI04940 dan masuk sebagai peserta didik baru pada 16 Agustus 2021.
Hingga Semester Genap 2024/2025, ia masih berstatus aktif.
Tiyo Ardian lahir di Kudus, Jawa Tengah pada 26 April. Di lingkungan kampus, Tiyo dikenal sebagai aktivis mahasiswa sebelum akhirnya terpilih menjadi Ketua BEM UGM.
Sebelum menembus kampus kerakyatan, dia menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Yogyakarta (Padmanaba), sekolah elite yang dikenal mencetak banyak tokoh intelektual.
Selama memimpin BEM UGM, Tiyo Ardianto dikenal sebagai sosok yang independen.
Ia sering terlibat dalam berbagai pergerakan mahasiswa. Dirinya dikenal kritis terhadap kekuasaan dan politik praktis.
Karena alasan itu pula, Tiyo Ardianto terpilih sebagai Ketua BEM UGM.
- Instagram @bem.ugm
Pada Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan di Padang, Tiyo Ardianto mengambil langkah tegas.
Ketua BEM UGM ini memutuskan untuk keluar dari BEM SI.
Alasannya, karena dia kecewa melihat Munas yang justru malah dihadiri pejabat politik dan negara.
Tiyo mengkritik kedekatan BEM SI dengan penguasa yang dinilai tidak mencerminkan nilai perjuangan mahasiswa yang seharusnya berdiri di luar pengaruh kekuasaan.
Dalam pernyataannya, Tiyo menegaskan bahwa BEM KM UGM ingin tetap berpegang pada komitmen gerakan rakyat tanpa intervensi dari pihak manapun dan bersikap independen tanpa harus masuk dalam struktur yang mempunyai kepentingan politik.
Ia juga mengutuk kekacauan yang terjadi pada musyawarah nasional tersebut.
Termasuk insiden bentrokan yang membuat beberapa mahasiswa terluka, dan menegaskan bahwa tidak ada jabatan yang layak diperebutkan dengan cara kekerasan yang merusak kesatuan gerakan.
Tiyo aktif membangun komunikasi lintas kampus dan berkomitmen agar gerakan mahasiswa lebih melebur dengan rakyat secara mandiri, tanpa komando yang berpotensi mengkooptasi atau menghilangkan independensi gerakan.
Kronologi
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto disebut-sebut menerima serangkaian teror usai bersurat ke UNICEF terkait hak-hak pendidikan menyusul tragedi anak SD berusia 10 tahun bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu.
Dia disebut-sebut menulis: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.
Selain itu, Tiyo juga disebut-sebut mengkritik pemerintah.
Dikirim Pesan dari Nomor Kode Negara +44
Tiyo mengatakan dia menerima pesan-pesan WhatsApp dari sedikitnya enam nomor misterius berkode +44 yang merupakan kode negara Inggris Raya.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” demikian salah satu bunyi pesan yang diterima Tiyo.
Tiyo juga mengaku mendapatkan serangan di media sosialnya seperti Facebook, X, Instagram hingga TikTok.
“Mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar 'Awas LGBT di UGM' dengan foto saya. Bahkan, ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di-generate oleh AI dengan tulisan bahwa 'Tiyo ini adalah langganan. Tiyo ini suka menyewa LC karaoke',” katanya dikutip pada Kamis (19/2/2026).
Bahkan, ibu Tiyo menerima pesan yang menyebutkan bahwa anaknya nilep dana kampus.
Diancam Diculik dan Diikuti
Tiyo mengaku mendapatkan teror berupa ancaman penculikan. Dia mendapatkan pesan itu secara konsisten pada periode 9-11 Februari 2026.
Tiyo juga mengaku dibuntuti dua pria bertubuh tegap tak dikenal di sebuah kedai pada Rabu (11/2/2026).
Menurut dia, dua pria itu mengambil foto-fotonya dari kejauhan.
Tiyo Tidak Takut
Tiyo menegaskan tidak akan menunjukkan rasa takut akan aksi teror ini.
“Cahaya itu telah menerangi gulita teror dan bahaya yang saya, keluarga dan pengurus BEM UGM alami. Kita buat setiap teror itu gagal dengan tetap berdiri tegak dan kepala mendongkak,” tulisnya di Instagram pribadinya.
“Soal teror dan ancaman yang saya, keluarga dan pengurus BEM terima, kami sudah komunikasikan dengan LPSK, KIKA dan kampus untuk tindak lanjutnya,” sambungnya. (nsi/muu)