- Tangkapan layar YouTube Abraham Samad/tvOnenews
Sama-Sama Orang Filsafat, Rocky Gerung Angkat Bicara Soal Kritik Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Bukan Marah Manusia Biasa
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat politik sekaligus akademisi filsafat Rocky Gerung, menanggapi aksi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang belakangan menjadi sorotan publik setelah melontarkan kritik keras kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam perbincangan di kanal YouTube pribadinya bersama jurnalis senior Hersubeno Arief, Rocky menilai latar belakang Tiyo Ardianto sebagai mahasiswa filsafat membuat pernyataannya dipandang berbeda dibanding kritik biasa.
“Akhirnya Ketua BEM UGM, yang lebih penting dia adalah mahasiswa jurusan filsafat, jadi pusat perhatian dan intelektual, jadi pusat perhatian terutama dari kalangan intelijen yang menganggap bahwa ada sesuatu di belakang ucapan Tiyo itu yang tembus berjuta-juta followers, ada sejenis kepanikan dan dia memang mengaku ya dia menulis itu, surat ke UNICEF, mengucapkan kritik tajam kepada presiden Prabowo, lalu pakai kaus yang nyeleneh itu ya, 'Maling Berkedok Gizi',” ujarnya, dikutip Selasa (24/2/2026).
Akumulasi Kekecewaan Mahasiswa
Rocky memandang sikap Tiyo Ardianto tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan dinamika gerakan mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut terdapat akumulasi kekecewaan yang sebelumnya muncul dalam aksi demonstrasi pada Agustus tahun lalu.
“Kita bisa melihat ini sebagai endapan dari kemarahan mahasiswa dan kita sebut aja itu sebagai subkultur, di dalam kehidupan kampus itu adalah sub bahwa memang mesti ada yang meledak, ini kita anggap aja sebagai dialektika dari proses-proses yang menginginkan ada keterbukaan, perhatian pemerintah terhadap hal yang didalilkan oleh para mahasiswa itu, soal kemiskinan, pendidikan, kepedulian HAM, penangkapan mahasiswa yang sebetulnya jadi perhatian dari tim pencari fakta, YLBHI, dan Kontras,” ungkapnya.
Menurut Rocky Gerung, kemarahan yang ditunjukkan Tiyo Ardianto bukan ekspresi emosional personal, melainkan respons intelektual terhadap kebijakan publik.
“Tapi dia bukan marah sebagai manusia biasa, dia marah sebagai akademisi yang paham dengan kebijakan, bahkan dia terangkan dengan bagus di situ, semua orang mengerti bahwa ada masalah di negeri ini, ada masalah dengan kepemimpinan presiden Prabowo, tapi sekali lagi itu adalah pendapat akademisi dengan mempunyai data, dengan membandingkan opini publik,” ujarnya.