- YouTube/retorikashow
Ketua BEM UGM Ungkap Harapan di Balik Surat ke UNICEF, Bisa Buka Mata Dunia soal Dampak MBG
Dalam pandangan Tiyo, Presiden saat ini tidak lagi mendengarkan aspirasi publik secara langsung.
Kritik dan keluhan masyarakat, menurutnya, tidak sampai ke telinga pemimpin tertinggi negara karena tersaring oleh lapisan-lapisan kekuasaan yang sibuk menjaga citra pemerintah.
Karena itu, mengirim surat ke UNICEF merupakan cara BEM UGM untuk menembus batas tersebut.
“Meletakkan isu ini ke UNICEF sebenarnya adalah upaya untuk menjadikan ini bagian dari percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia,” kata Tiyo.
"Karena Pak Presiden kan sedang sangat suka me-make up diri di depan pemimpin dunia, ketemu Trump, ketemu Netanyahu, ketemu yang lain. Saya harap pas mereka ngopi, mereka bisa ngomong, ‘eh, kok ada yang kirim surat katanya kamu enggak kompeten?’” terangnya.
Melalui pernyataan itu, Tiyo menegaskan bahwa langkahnya bukan untuk mempermalukan negara.
Ia berharap pesan dalam surat tersebut bisa sampai ke telinga Presiden, entah melalui jalur diplomatik atau bahkan percakapan informal antarpemimpin dunia.
“Saya yakin Pak Presiden enggak tahu bahwa surat itu ada. Jadi kita butuh kanal-kanal untuk sampai ke telinga Presiden,” ujar Tiyo.
Lebih jauh, Tiyo menjelaskan bahwa harapan utama di balik surat tersebut adalah agar pemerintah Indonesia tidak lagi menjadikan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan utama yang mengorbankan anggaran pendidikan.
Ia menegaskan bahwa MBG memang penting untuk menekan angka stunting, namun pelaksanaannya tidak boleh dilakukan dengan merampas porsi dana yang seharusnya digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (adk)