news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Tiyo Ardianto.
Sumber :
  • YouTube/retorikashow

Ketua BEM UGM Ungkap Harapan di Balik Surat ke UNICEF, Bisa Buka Mata Dunia soal Dampak MBG

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ungkap alasan dan harapan di balik surat ke UNICEF agar dunia tahu dampak MBG dan kondisi rakyat miskin Indonesia.
Selasa, 24 Februari 2026 - 22:51 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Langkah Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), mengirim surat ke United Nations Children’s Fund (UNICEF) masih terus menjadi sorotan.

Tindakan itu dianggap berani, bahkan sebagian menyebutnya nekat, karena langsung menembus kanal internasional tanpa terlebih dahulu melibatkan lembaga negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun di balik langkah tersebut, Tiyo menjelaskan ada harapan besar agar dunia tahu bahwa Indonesia sedang menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan kebijakan sosial, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam wawancaranya bersama Abraham Samad di kanal YouTube, Tiyo menegaskan bahwa keputusan BEM UGM untuk berkirim surat ke UNICEF tidak diambil secara tergesa-gesa.

Surat itu lahir dari keprihatinan mendalam atas berbagai ketimpangan kebijakan pemerintah yang menurutnya justru menyingkirkan hak-hak dasar anak dan pendidikan.

“Pemantik dasarnya adalah keputusan seorang anak di NTT yang bunuh diri setelah gagal membeli pena dan buku seharga Rp10 ribu. Itu isu yang luar biasa penting dalam konteks anak-anak,” ujar Tiyo.

“Bunuh diri anak bukan persoalan sederhana. Saya yakin sampai sekarang Presiden enggak tahu bahwa ada peristiwa itu, karena saya yakin orang-orang di sekitar Presiden enggak ngasih tahu bahwa ada kejadian itu," sambungnya.

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto
Sumber :
  • Instagram @bem.ugm

Tiyo menyebut, kasus anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menjadi simbol betapa kebijakan pemerintah telah kehilangan kepekaan terhadap kondisi sosial rakyat kecil.

Ia menganggap peristiwa itu sebagai “alarm moral” yang harus menggugah nurani para pemimpin negara agar memahami bahwa ada ketimpangan besar antara realitas rakyat dan kebijakan negara.

Ketika ditanya mengapa memilih menulis ke UNICEF alih-alih membawa isu tersebut ke peradilan internasional, Tiyo menjawab dengan lugas.

Ia mengatakan bahwa BEM UGM tidak sedang menuntut secara hukum, melainkan berupaya membuka ruang percakapan global agar dunia mengetahui bahwa ada masalah mendasar dalam kebijakan sosial Indonesia.

“Yang mengendalikan kekuasaan itu kan mestinya adalah percakapan publik, apakah itu tentang MBG atau pendidikan, baik di level nasional maupun dunia. Nah, ekuasaan kita ini berjarak dengan realitas sosial masyarakat Indonesia,” ungkap Tiyo.

Dalam pandangan Tiyo, Presiden saat ini tidak lagi mendengarkan aspirasi publik secara langsung.

Kritik dan keluhan masyarakat, menurutnya, tidak sampai ke telinga pemimpin tertinggi negara karena tersaring oleh lapisan-lapisan kekuasaan yang sibuk menjaga citra pemerintah.

Karena itu, mengirim surat ke UNICEF merupakan cara BEM UGM untuk menembus batas tersebut.

“Meletakkan isu ini ke UNICEF sebenarnya adalah upaya untuk menjadikan ini bagian dari percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia,” kata Tiyo.

"Karena Pak Presiden kan sedang sangat suka me-make up diri di depan pemimpin dunia, ketemu Trump, ketemu Netanyahu, ketemu yang lain. Saya harap pas mereka ngopi, mereka bisa ngomong, ‘eh, kok ada yang kirim surat katanya kamu enggak kompeten?’” terangnya.

Melalui pernyataan itu, Tiyo menegaskan bahwa langkahnya bukan untuk mempermalukan negara.

Ia berharap pesan dalam surat tersebut bisa sampai ke telinga Presiden, entah melalui jalur diplomatik atau bahkan percakapan informal antarpemimpin dunia.

“Saya yakin Pak Presiden enggak tahu bahwa surat itu ada. Jadi kita butuh kanal-kanal untuk sampai ke telinga Presiden,” ujar Tiyo.

Lebih jauh, Tiyo menjelaskan bahwa harapan utama di balik surat tersebut adalah agar pemerintah Indonesia tidak lagi menjadikan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan utama yang mengorbankan anggaran pendidikan.

Ia menegaskan bahwa MBG memang penting untuk menekan angka stunting, namun pelaksanaannya tidak boleh dilakukan dengan merampas porsi dana yang seharusnya digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (adk)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:30
02:18
02:01
01:20
05:27
04:09

Viral