- tvOnenews/Rika Pangesti
Kerap Diteror, Ibu Kandung Nizam Syafei Korban Pembunuhan Ibu Tiri Minta Perlindungan ke LPSK
Yang paling tegas, ia menolak opsi damai seperti yang terjadi pada 2024.
"Tidak ada Restorative Justice dalam kasus ini. Tidak ada lagi upaya perdamaian," tegasnya.
"Tahun 2024 dilakukan perdamaian, dan inilah akibatnya (nyawa melayang)," lanjut Rieke.
KPAI Soroti Dugaan Pelaku Lain
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra meminta kepolisian tidak berhenti pada satu tersangka.
"Ini sangat penting untuk dipastikan perlindungannya agar kasus ini bisa terungkap dengan terang benderang, terutama untuk mengetahui siapa saja pelakunya, apakah memang hanya ibu tiri (ibu sambung) atau ada pihak lain," ucap Jasra.
Ia secara terbuka mendorong penyidik mendalami kemungkinan keterlibatan ayah kandung.
"Kami juga mendorong kepolisian untuk mengungkap dugaan keterlibatan pelaku lain, seperti bapak kandung," ujarnya.
KPAI mengungkap, kasus serupa pernah terjadi pada 2024 dan saat itu diselesaikan melalui perdamaian.
"Kasus serupa pernah terjadi di tahun 2024 dan sempat diselesaikan dengan jalan damai bersama ibu sambung ini, oleh sebab itu masalah ini harus diusut lebih jauh," katanya.
Data KPAI menunjukkan kasus filisida bukan kejadian tunggal.
"Kasus Filisida (orang tua atau keluarga membunuh anak), sepanjang catatan KPAI di tahun 2024/2025, ada sekitar 25 kasus," ucapnya.
Seperti diketahui, Seorang anak laki-laki bernama Nizam Syafei atau NS (12) meninggal dunia di RSUD Jampang Kulon pada Kamis (19/2/2026). NS diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya.
Bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi itu mengalami sejumlah luka bakar serta memar akibat benda tumpul hampir seluruh bagian tubuhnya.
Berdasarkan pengakuan Nizam sebelum meninggal, ia dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.
Korban sempat dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU selama kurang lebih delapan jam. Meski demikian, upaya medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Ayah korban, Awang Satibi, tak mampu menyembunyikan kesedihannya dan menangis histeris saat anaknya meninggal dunia.
Awang mengungkapkan bahwa sebelum dirinya bepergian ke luar kota, kondisi sang anak dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan adanya luka bakar di tubuhnya.