- Rika Pangesti-tvOne
Ramadhan di Balik Jeruji Lapas Cipinang: Saat Para Warga Binaan Menemukan Jalan Pulang
Jakarta, tvOnenews.com – Fajar belum sepenuhnya datang di Lapas Kelas I Cipinang. Namun, aktivitas di balik tembok tinggi itu sudah mulai bergerak.
Di dalam kamar-kamar hunian, para warga binaan duduk melingkar sederhana. Sebagian menyiapkan sahur, sebagian lainnya menunggu waktu imsak sambil berbincang pelan.
Di ruang sempit yang menjadi tempat mereka menjalani hukuman, suasana Ramadhan terasa berbeda.
Tak ada hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanya percakapan lirih dan langkah-langkah yang tertahan.
- Rika Pangesti-tvOne
Bulan suci di balik jeruji besi seringkali menghadirkan perenungan yang lebih panjang. Tentang kesalahan masa lalu, tentang keluarga yang jauh di luar sana, dan tentang harapan untuk kembali menjadi manusia yang lebih baik.
Di lapas terbesar di Jakarta itu, Ramadhan bukan sekadar waktu berpuasa. Bulan suci ini dijadikan ruang pembinaan spiritual bagi para warga binaan agar mereka dapat menata kembali hidup yang sempat tersesat.
Hari-hari mereka pada bulan suci terbilang cukup padat. Kegiatan dimulai sejak dini hari. Para warga binaan pemasyarakatan (WBP) sahur bersama di dalam kamar masing-masing—per blok hunian.
Setelah itu, mereka melaksanakan salat Subuh dan dilanjutkan dengan kultum singkat yang disampaikan oleh tutor dari sesama narapidana yang telah dibina.
Ceramah sederhana itu menjadi pengingat tentang kesabaran, pertobatan, dan kesempatan untuk berubah.
Baru kemudian sekitar pukul 08.00 pagi, para warga binaan diperbolehkan keluar dari kamar menuju sebuah masjid yang ada di lapas.
Di sana mereka mengikuti kegiatan ta’lim, mendengarkan tausiyah dari para dai yang dihadirkan dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Menjelang azan Dzuhur, suasana lapas kembali dipenuhi lantunan ayat suci. Para warga binaan duduk berkelompok, membuka mushaf, dan melanjutkan kegiatan tadarus Al-Qur’an sampai menjelang Maghrib.
Berdasarkan amatan tvOnenews.com di masjid lapas, puluhan narapidana yang masuk dalam kelas santri tampak mengenakan pakaian muslim berwarna putih dan sarung. Tak lupa juga memakai kopiah.
Mereka sedang membaca kitab suci Al-Qur'an sembari menunggu azan Ashar dan Maghrib.
Terdengar suara tadarus bersahutan, menciptakan suasana syahdu, damai, dan tenteram.
Hari-hari Ramadhan di dalam lapas pun banyak diisi dengan membaca Al-Qur’an. Target yang dipasang bahkan cukup ambisius, yaitu khatam 30 juz satu kali setiap hari.
- Rika Pangesti-tvOne
Kepala Lapas Cipinang Wachid Wibowo menjelaskan seluruh kegiatan tersebut telah dipersiapkan jauh sebelum Ramadhan tiba.
“Selama memasuki bulan Ramadhan sampai hari ini, sudah hari yang ke-13, ada target-target yang memang kami tanamkan, khususnya di bidang pembinaan, agar nantinya setelah selesai Ramadhan ini betul-betul target itu bisa tercapai sekaligus untuk memberikan penguatan terkait keimanan dan ketakwaan bagi warga binaan,” kata Wachid saat ditemui tvOnenews.com, Selasa (3/3/2026).
Bagi pihak lapas, Ramadhan dipandang sebagai momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran di dalam diri para warga binaan.
“Selama mereka di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang ini, kami berharap warga binaan ini mereka betul-betul menyadari kesalahan dan ruang Ramadhan ini bisa menjadi ruang untuk pertobatan bagi mereka, sekaligus untuk introspeksi diri, memperbaiki diri, dan di situ juga diberikan kesempatan untuk belajar meningkatkan diri,” ujarnya.
Program pembinaan tersebut sebenarnya telah dilakukan setiap tahun. Namun, pihak lapas terus melakukan evaluasi agar kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas.
“Setiap tahun kita lakukan kegiatan itu dan kami akan melakukan evaluasi untuk peningkatan dan perbaikan ke depan. Karena yang paling penting output-nya itu kan setelah nanti Ramadhan, bagaimana perubahan perilaku bagi warga binaan,” kata Wachid.
Tahun ini pihak lapas juga menargetkan intensitas membaca Al-Qur’an yang lebih tinggi bagi para warga binaan.
“Kalau tahun ini kami menargetkan mereka bisa setiap hari itu khatam, sehingga di setelah selesai nanti Ramadhan itu ya paling tidak bisa 30 kali khatam. Bagi mereka yang belum bisa membaca Al-Qur'an, tentunya ada kelompok tersendiri agar dia bisa mempelajari dan memperdalam dan kelancaran untuk pembacaan Al-Qur'an,” ujarnya.
Menurut Wachid, kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai kewajiban yang memaksa. Pihak lapas lebih menekankan kesadaran dari para warga binaan.
“Alhamdulillah saya melihat proses dari tahun lalu dengan tahun ini mereka sangat antusias dan kegiatannya semakin banyak. Kami juga berusaha bagaimana kegiatan pembinaan ini lebih memberikan penyadaran kepada mereka, sehingga kegiatan ini tidak ada unsur paksaan yang kami harapkan,” katanya.
Adapun, pada hari keempat belas Ramadhan, Lapas Cipinang juga menggelar kegiatan buka puasa bersama antara para narapidana dengan keluarga mereka.
Kegiatan tersebut menjadi momen yang ditunggu para warga binaan untuk bersilaturahmi dan melepas rindu dengan keluarga di tengah masa pembinaan.
Acara buka puasa bersama itu digelar secara bergantian setiap pekan dengan melibatkan narapidana dari blok yang berbeda, sehingga seluruh warga binaan mendapat kesempatan yang sama untuk bertemu dan berbuka puasa dengan keluarganya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Narapidana Lapas Cipinang Iwan Setiawan menjelaskan pembinaan selama Ramadhan juga dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
“Di bulan suci Ramadhan ini kita meningkatkan kegiatan pembinaan kepribadian, khususnya di bidang keagamaan,” ujar Iwan.
Pada malam hari, para warga binaan mengikuti salat tarawih berjemaah di masjid lapas.
Karena kapasitas masjid terbatas, kehadiran mereka diatur secara bergiliran dari masing-masing blok hunian.
“Teknisnya adalah, yang pertama, kita melaksanakan salat tarawih berjemaah yang diikuti oleh perwakilan dari masing-masing blok hunian. Mengingat kapasitas masjid kita yang terbatas, maka kita atur secara bergantian agar semua warga binaan mendapatkan kesempatan yang sama untuk beribadah di masjid,” jelasnya.
Dalam kegiatan tadarus, para warga binaan yang sudah lancar membaca Al-Qur’an juga membantu rekan-rekan mereka yang masih belajar.
“Warga binaan yang sudah lancar membaca Al-Qur'an akan membimbing rekan-rekannya yang masih dalam tahap belajar. Jadi di sini ada proses peer-to-peer atau pembelajaran antar sesama warga binaan,” kata Iwan.
Meski kegiatan keagamaan berlangsung intens selama Ramadhan, pengawasan keamanan tetap dilakukan secara ketat oleh petugas.
“Setiap pergerakan warga binaan dari blok ke masjid dan sebaliknya dilakukan dengan pengawalan ketat oleh petugas. Jumlah personel pengamanan juga ditingkatkan pada jam-jam ibadah tersebut untuk memastikan situasi tetap kondusif dan ibadah dapat berjalan dengan khusyuk,” ujarnya.
Di balik jeruji besi itu, Ramadhan berjalan dengan ritmenya sendiri. Ada ayat-ayat yang dibaca perlahan, ada doa yang dipanjatkan dalam diam, dan ada harapan yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Harapannya sederhana, ketika suatu hari pintu penjara terbuka, mereka tidak lagi kembali sebagai pelanggar hukum, melainkan sebagai manusia yang telah belajar dari kesalahan dan berusaha menemukan jalan pulang. (rpi/nsi)