- Syifa Aulia-tvOne
Sejarah Masjid Cut Meutia Jakarta, dari Kantor Belanda hingga Jadi Tempat Ibadah Tanpa Kubah
Jakarta, tvOnenews.com - Di kawasan elit Menteng, Jakarta Pusat, berdiri sebuah tempat ibadah bernuansa cat putih dengan arsitektur khas Eropa. Tempat ibadah itu bernama Masjid Cut Meutia.
Lokasinya ada di bawah rel kereta api rute Bogor-Jakarta Kota, dan hanya berjarak lima langkah dari Stasiun Gondangdia.
Bangunan ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda yang kemudian dijadikan sebagai cagar budaya.
Sebelum dibangun menjadi masjid, bangunan sejak 1912 ini adalah kantor biro arsitektur dan pengembang bernama N. V. De Bouwploeg. Nama tersebut juga masih terpampang di tembok bagian luar masjid.
William Gunardi Syarief selaku pengurus Masjid Cut Meutia mengatakan seiring berjalannya waktu kantor arsitektur itu lalu berubah menjadi kantor pos.
Lalu, berubah lagi menjadi kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang.
Bahkan, setelah Indonesia merdeka, bangunan tua itu pernah dijadikan kantor Wali Kota Jakarta Pusat, kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), kantor Dinas Perumahan Jakarta, dan kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).
Ketika kantor MPRS dipindahkan ke kawasan Senayan, kemudian muncul gagasan untuk mengubah gedung tersebut menjadi masjid.
Ide itu, salah satunya datang dari tokoh militer dan politik nasional, Abdul Haris Nasution. Yang kemudian dikenal sebagai Masjid Cut Meutia.
“Jadi makanya ini menjadi cagar budaya ya karena arsitekturnya menarik dan beda banget dari masjid lainnya,” kata William bercerita kepada tvOnenews.com, Sabtu (7/3/2026).
Masjid Tanpa Kubah
William menceritakan, Masjid Cut Meutia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Masjid ini berdiri tanpa kubah. Sebagai cagar budaya, masjid ini dibangun tanpa mengubah keaslian gedung.
“Ya namanya gedung apa bersejarah ya. Apalagi cagar budaya itu enggak sembarangan diubah biasanya. Jadi memang sengaja dibuat ya basis arsitekturnya. Kubah juga bukan menjadi syarat dalam agama ya kan,” tuturnya.
“Syarat utamanya apa? Bisa azan, bisa salat, orang hidup di sini bermasyarakat gitu. Banyak masjid berkubah, tapi orangnya enggak salat kan gimana gitu. Yang penting bukan kubahnya,” kata William menambahkan.