- Tangkapan Layar Instagram @podcastseninsore
Komentar Menohok Komnas Perempuan, Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB Tapi Aktivis KontraS Disiram Air Keras
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus penyiraman air keras terhadap antivis KontraS Andrie Yunus oleh orang tidak dikenal (OTK) di Menteng, Jakarta Selatan tengah menjadi sorotan publik.
Termasuk Komisioner Komnas Perempuan Sondang Frinshka. Sondang soroti paradoksnya insiden yang dialami Andrie Yunus dengan kondisi kedudukan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Seperti diketahui, Indonesia menjabat sebagai Presiden Dewan HAM PBB. Di saat yang bersamaan Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus justru mengalami kekerasan disiram air keras.
Menurutnya, posisi Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB membawa tanggung jawab besar untuk memastikan negara anggota PBB mematuhi prinsip-prinsip HAM, termasuk menindak tegas pelanggaran HAM yang terjadi di dalam negeri.
- ist
“Kewajiban itu terutama harus dibuktikan dengan menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi di dalam negeri dan dalam hal ini kasus penyerangan berupa penganiayaan fisik terhadap salah seorang pembela HAM di Indonesia,” kata Sondang dikutip dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).
Beredar Tampang dan Ciri-ciri Pelaku
Gambar yang diklaim memperlihatkan dua orang terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, ramai beredar di media sosial.
Foto yang menyebar luas di platform X itu menampilkan dua pria yang sedang mengendarai sepeda motor. Wajah keduanya terlihat cukup jelas sehingga langsung memicu spekulasi warganet mengenai identitas pelaku.
Dalam gambar tersebut, pria yang mengemudikan motor tampak memakai topi berwarna biru muda serta helm hitam. Sementara orang yang berada di jok belakang terlihat mengenakan kemeja biru dan tidak menggunakan helm.
Namun, kepolisian menegaskan bahwa foto tersebut bukanlah gambar asli. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Saputra mengatakan foto yang beredar telah dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
“Itu AI. Kami terganggu dengan editing foto ini karena menganggu ciri-ciri pelaku sebenarnya,” ujar Roby kepada wartawan Sabtu (14/3/2026).
Menurut polisi, manipulasi gambar tersebut justru berpotensi mengacaukan proses penyelidikan karena dapat menampilkan ciri fisik yang tidak sesuai dengan kondisi pelaku sebenarnya.