- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Dedi Mulyadi Sorot Teror Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus, Yakin Pelaku Segera Ditangkap
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan aksi teror penyiraman air keras yang menimpa aktivis hak asasi manusia dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai tindakan intimidatif yang mencederai nilai kemanusiaan dan demokrasi.
Kang Dedi berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi, khususnya di wilayah Jawa Barat maupun Indonesia secara umum.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Senin (16/3/2026), Dedi Mulyadi menegaskan bahwa masyarakat berharap daerah tetap aman dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk aksi yang bertujuan mencelakai atau bahkan menghilangkan nyawa seseorang.
“Sebagai warga Jawa Barat, kita berharap Jawa Barat terbebas dari berbagai teror intimidatif, upaya menghilangkan nyawa orang lain, membuat cacat orang lain dengan tujuan tertentu sebagaimana dialami oleh saudara kita, Bang Andri Yunus, aktivis KontraS,” ujar Dedi.
Pernyataan tersebut menjadi bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap keselamatan warga serta pentingnya menjaga iklim demokrasi yang sehat.
Terlebih, Andrie Yunus dikenal sebagai aktivis yang selama ini aktif menyuarakan isu hak asasi manusia.
Dedi Mulyadi juga menekankan bahwa supremasi hukum harus ditegakkan dalam menyikapi kasus tersebut.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa aparat penegak hukum akan mampu mengungkap pelaku serta pihak yang berada di balik aksi teror tersebut.
- Instagram/dedimulyadi71
“Saya meyakini pelaku penyerangan dan siapa yang menyuruhnya akan diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia perlu terus menjaga kehidupan demokrasi yang terbuka dengan tetap mengedepankan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan.
Menurut Dedi, kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dari demokrasi, namun harus tetap diiringi dengan rasa saling menghormati antar sesama warga negara.
“Semoga kita semua bisa hidup saling menghargai, saling menghormati di alam demokrasi yang terbuka seperti Indonesia,” ujarnya.
Insiden penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus sendiri terjadi pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB.
Saat itu, Andrie baru saja mengikuti kegiatan penyiaran yang membahas isu remiliterisasi dan judicial review di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta.