- Instagram/@dedimulyadi71
Dianggap Mengganggu Pemudik, KDM Bubarkan Penyapu Koin di Jalur Pantura: Pulang, Saya Kasih Kompensasi!
Subang, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) bertindak tegas kepada warga menjalankan tradisi sapu koin di jalur Pantura, tepatnya di Jembatan Sewo, Subang, Jawa Barat (Jabar).
Dalam kunjungannya, KDM tak segan langsung menertibkan aktivitas warga yang menyapu koin. Menurutnya, kegiatan berbasis tradisi itu mengganggu kelancaran arus mudik Lebaran 2026.
Selain itu, KDM menilai penyapu koin berjejeran di pinggir jalan, bisa membahayakan keselamatan mereka maupun para pemudik yang melintasi jalur Pantura.
Saat sidak aktivitas itu, KDM meminta ratusan penyapu koin menghentikan kegiatannya. Ia berharap mereka pulang demi kelancaran pemudik yang menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.
"Ini para pencari koin nih. Mau Lebaran di pinggir jalan cari koin, panas dan berbahaya. Sekarang pulang ke rumahnya masing-masing, jangan lagi memungut koin," ujar KDM, Rabu (18/3/2026).
KDM Beri Kompensasi untuk Penyapu Koin
- Tangkapan layar YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel
Ia mengetahui aktivitas tersebut sudah menjadi tradisi. Ia pun membuat gebrakan baru dengan cara memberikan kompensasi kepada ratusan penyapu koin di Jembatan Sewoharjo.
Mantan Bupati Purwakarta ini akan menyalurkan uang kompensasi melalui kepala desa (kades) setempat. Adapun jumlahnya sebesar Rp50 ribu per hari.
Sementara total uang yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar sebesar Rp600 ribu. Hitungan tersebut sudah masuk selama periode mudik dan libur Lebaran sampai 28 Maret 2026.
"Nanti saya urus dengan kepala desa. Ini saya kasih paket uang untuk lebaran. 16 hari nggak boleh cari-cari koin ya," tegas KDM.
KDM memastikan tawaran tersebut benar-benar diterima oleh warga. Ia kembali menegaskan, "mau menurut nggak?."
Warga yang berada di lokasi tentu menerima permintaan dari KDM. Akan tetapi sebagian warga lainnya menolak tawaran berupa uang kompensasi.
Menurut mereka, kegiatan menyapu koin sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Pasalnya tradisi ini bermula dari mitos tragis kakak beradik, Saedah dan Saenih.
Keduanya saat itu meninggal dunia di Jembatan Sewo. Pada kala itu juga terjadi adanya kecelakaan maut melibatkan bus pada 1974.