- Shutterstock
Ekonomi RI Tertahan! Masyarakat Pilih Tabung THR daripada Belanja, Takut Harga Kebutuhan Naik Imbas Perang
Jakarta, tvOnenews.com - Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 akan berada di kisaran 5,05 persen.
Angka tersebut dipengaruhi oleh faktor musiman, khususnya meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan lebaran 2026
“Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diperkirakan sebesar 5,05 persen dipengaruhi faktor seasonal Ramadhan-Lebaran,” kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Meski demikian, Bhima menilai potensi pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini sebenarnya masih bisa melampaui angka tersebut. Namun, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju konsumsi masyarakat.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan tunjangan hari raya (THR). Ia melihat banyak masyarakat yang cenderung tidak langsung membelanjakan THR, melainkan menyimpannya sebagai cadangan keuangan.
Menurut Bhima, sikap tersebut tidak lepas dari kekhawatiran akan kemungkinan kenaikan harga energi dan bahan pangan setelah periode Lebaran.
Kondisi ini berpotensi membuat belanja rumah tangga tertahan dan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bhima mendorong pemerintah agar lebih fokus menjaga stabilitas inflasi, terutama pada periode mudik.
Dengan inflasi yang terkendali, masyarakat diharapkan lebih yakin untuk membelanjakan THR mereka.
Selain itu, ia juga menyoroti faktor lain yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, yakni arus balik yang diperkirakan tidak akan optimal. Hal ini berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan lapangan kerja di kota-kota besar.
Biasanya, lanjut Bhima, momentum Idul Fitri dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kembali ke kota dalam rangka mencari pekerjaan.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memperluas penciptaan lapangan kerja agar arus balik meningkat, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
Di luar tantangan tersebut, Bhima juga melihat peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata. Ia menilai pergerakan masyarakat saat mudik memiliki dampak positif terhadap sektor ini.
“Secara musiman mudik memberi dorongan ke sektor pariwisata, tapi ke depan perlu promosi lebih gencar lagi ke destinasi wisata baru sehingga durasi tinggalnya lebih lama,” ujarnya.