news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) saat pidato di Dies Natalis UIN SGD Bandung.
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Minta Anak Muda Jangan Paksakan Pesta Pernikahan, Siap-siap Diatur Surat Edaran

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) merencakan penerbitan surat edaran (SE) agar anak muda di Jabar menikah sederhana ketimbang menggelar pesta pernikahan.
Jumat, 10 April 2026 - 14:21 WIB
Reporter:
Editor :

KDM Ungkap Manfaat Pernikahan Sederhana

Ilustrasi Pernikahan
Sumber :
  • Freepik/bristekjegor

Mantan anggota DPR ini memberikan penilaian tentang manfaat pernikahan sederhana. Menurutnya, ada banyak keuntungan yang didapat ketimbang menggelar secara mewah.

Ia menjelaskan, keuntungan pertama dari sisi efisiensi biaya. Kemudian, pernikahan sederhana juga sangat mendukung untuk keberlanjutan ekonomi pasangan ke depannya.

Salah satu contoh pernikahan sederhana, kata KDM, bisa melakukan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Menurutnya, cara ini sangat simpel tanpa menggelar pesta mewah.

"Pagi-pagi bisa langsung datang ke KUA untuk proses akad. Nanti sorenya sudah pulang. Nah, besoknya sudah dagang lagi," jelasnya.

Ia memberikan asumsinya. Pasangan muda yang mengutamakan pola pikir secara rasional sebagai tanda siap menghadapi dan memulai kehidupan di masa depannya.

Lanjut, KDM melihat perbandingan budaya dan fenomena sosial yang terjadi saat ini. Ia mengaitkan dengan budaya dari masyarakat Tiongkok.

Menurut dia, masyarakat Tiongkok mampu membentuk perencanaan ekonomi yang baik. Selain itu, mereka juga kerap mengutamakan pola hidup disiplin sebagai pemicu China menjadi negara yang kuat.

"China tidak akan ada seperti sekarang. Itu kalau tidak punya perilaku yang hebat seperti kebudayaan mereka," imbuhnya.

Praktik Pernikahan Transaksional

Dalam kesempatan itu, ia menyinggung fenomena pernikahan transaksional. Biasanya dikenal sebagai "pengantin pesanan" yang kerap kali menjerat anak muda dan warga Jabar.

Ia mengaku kerap kali menangani kasus pengantin pesanan. Jika di China, hal itu terjadi di mana perempuan lebih banyak memiliki daya tawar yang sangat mahal ketimbang pihak pria.

Dedi Mulyadi berpendapat salah satu pemicu jebakan menjerat masyarakat. Hal ini akibat adanya iming-iming uang besar.

"Rp500 juta itu tidak berarti di sana. Biaya hidup sangat mahal. Akibat mahal, yang menjadi korban adalah warga Jawa Barat," terangnya.

Ia pun menyoroti pola pikir yang salah dilakukan masyarakat. Kebanyakan sering mementingkan budaya gengsi yang sudah berakar.

Ia menyebut istilah ini "kajeun teuing tekor asal sor". Artinya, mereka lebih mengutamakan penampilan guna mempertahankan gengsi atau citra sosial ketimbang kerugian secara materi.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:13
02:10
01:39
06:50
01:36
07:02

Viral