- Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com
Di Tengah Gejolak Global, Istana Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh dan Daya Beli Aman, BBM Tak Naik
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap berada di jalur positif meski dunia dilanda ketidakpastian akibat konflik global.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut sejumlah indikator menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga dan stabilitas ekonomi nasional terkendali.
Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi di berbagai negara.
“Buktinya apa? Satu, di tengah konflik global dan dampak di Timur Tengah, perang di Timur Tengah, banyak sekali negara yang menaikkan harga BBM, kesulitan BBM. Tapi justru Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi sama sekali,” kata Teddy, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dikutip Sabtu (11/4/2026).
Selain kebijakan energi, Teddy menekankan bahwa data ekonomi menunjukkan tren yang optimistis. Ia menyebut hasil analisis para ekonom mengindikasikan kondisi ekonomi domestik tetap solid, terutama dari sisi konsumsi masyarakat.
Menurutnya, indikator paling nyata terlihat pada momentum Lebaran dalam dua tahun terakhir. Di tengah lonjakan permintaan, harga bahan pokok tetap terkendali dan pasokan tersedia.
“Harga bahan pokok, kebutuhan pokok tersedia, harga-harga stabil, BBM tersedia dan arus mudik lancar. Itu adalah fakta data yang tersedia di lapangan. Semua terukur di sini. Jadi, masyarakat jangan khawatir,” katanya.
Optimisme serupa juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, terutama karena konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan.
Kontribusi konsumsi domestik disebut mencapai sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadikannya penopang utama di tengah perlambatan global.
Airlangga bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat mencapai angka 5,5 persen.
“Untuk kuartal pertama kita optimistis lebih besar atau sama dengan 5,5 persen. Kemudian kalau di akhir tahun lebih besar sama dengan 5,4 persen sesuai dengan perkiraan APBN,” katanya.
Pernyataan pemerintah ini menjadi sinyal bahwa Indonesia berupaya menjaga stabilitas di tengah tekanan global, mulai dari lonjakan harga energi hingga ketegangan geopolitik.
Dengan kombinasi kebijakan subsidi, stabilitas harga, dan kuatnya konsumsi domestik, pemerintah optimistis ekonomi nasional tetap tumbuh—meski tantangan eksternal belum sepenuhnya mereda. (agr/muu)