- tim tvOnenews.com/Pixabay
Dedi Mulyadi Soroti Gen Z Sulit Punya Rumah Lantaran Lebih Pentingkan Pesta Pernikahan Mewah
Bandung, tvOnenews.com - Rendahnya kepemilikan rumah di kalangan anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z) jadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengatakan persoalan tersebut tidak lepas dari pola prioritas ekonomi pasangan muda yang masih lebih mementingkan seremoni pernikahan dibandingkan kebutuhan dasar, khususnya hunian.
Oleh karena itu, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi alias KDM ini menegaskan pentingnya pergeseran pola pikir dalam membangun rumah tangga.
KDM mendorong agar pasangan muda bisa mengalokasikan dana untuk kepemilikan rumah sebagai fondasi ketahanan keluarga jangka panjang.
Menurutnya, persoalan ini menjadi masalah mendasar yang berkaitan erat dengan ketahanan domestik.
"Filosofi Sunda mengajarkan imah kudu pageuh, beuteung kudu seubeuh (rumah harus kokoh, perut harus kenyang). Ini merupakan penegasan bahwa rumah adalah kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar," kata Dedi di Kabupaten Bandung, dikutip Rabu (15/4/2026).
KDM menyoroti fenomena sosial di mana pasangan muda kerap terjebak dalam beban finansial akibat pesta pernikahan mewah.
Ia menilai tradisi tersebut justru menjadi kontraproduktif, terutama jika dibiayai melalui pinjaman informal seperti bank keliling atau 'bank emok'.
"Daripada dana tersebut habis untuk pesta yang hanya berlangsung semalam, jauh lebih bijaksana jika dialokasikan sebagai uang muka perumahan. Menjadi raja semalam di pelaminan tidak sebanding dengan kepastian memiliki tempat berteduh selamanya," tuturnya.
Menurut pengamatan KDM, tekanan psikologis dan ekonomi akibat belum memiliki rumah jauh lebih berat dibandingkan menyederhanakan prosesi pernikahan.
Oleh karena itu, Dedi mengajak generasi muda untuk tidak ragu melangsungkan akad nikah secara sederhana, termasuk di Kantor Urusan Agama (KUA).
Dia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong kemandirian ekonomi keluarga muda.
Dengan memiliki aset properti sejak dini, meski melalui skema cicilan, pasangan muda dinilai akan memiliki stabilitas finansial yang lebih baik ke depan.
Dedi juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak gaya hidup semu yang mengedepankan gengsi, seperti penggunaan pengawalan atau dekorasi berlebihan, terlebih jika dibiayai utang.
"Lebih baik siang hari setelah akad langsung menempati rumah sendiri, meski masih mencicil, daripada menggelar pesta besar namun menyisakan beban utang yang panjang. Ketahanan keluarga dimulai dari fondasi ekonomi yang sehat dan rumah yang layak," pungkasnya. (muu)