- Syifa Aulia/tvOnenews
Susul Gubernur Dedi Mulyadi, Mendikdasmen Beri Reaksi Berkelas soal Kasus Siswa SMAN 1 Purwakarta Bully Guru
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyusul Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia ikut mengomentari kasus siswa SMAN 1 Purwakarta.
Abdul Mu'ti mengetahui kasus melibatkan siswa SMAN 1 Purwakarta. Dalam video viral tersebut, sembilan siswa terekam mengolok-olok atau mem-bully guru PKN bernama Syamsiah.
Mu'ti menjelaskan, Kemendikdasmen telah mendapatkan laporannya. Akan tetapi, kasus beberapa siswa sekolah di Purwakarta tersebut sudah selesai.
Ia menambahkan, penyelesaian kasus ini ditandai setelah siswa-siswa meminta maaf. Mereka menyesali perbuatannya telah mengacungkan jari tengah kepada Syamsiah.
"Itu sudah ada laporannya, sudah diselesaikan juga. Anak-anak itu kan sudah minta maaf kepada gurunya," ujar Mu'ti di SMPN 16 Jakarta, Jakarta Selatan, Senin (18/4/2026).
Kenapa Kasus Siswa SMAN 1 Purwakarta Sudah Beres?
- Instagram @dedimulyadi71
Ia memahami permintaan maaf dinilai tidak cukup. Namun, hal itu juga telah ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
"Dan sudah kita selesaikan seesuai dengan peraturan menteri tentang sekolah aman dan nyaman," terangnya.
Aturan ini untuk menggantikan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Keputusan tersebut sebagai upaya pendekatan budaya sekolah yang meliputi empat aspek.
Beberapa aspek utama dalam budaya sekolah, di antaranya spiritual, fisik, psikologis, dan digital. Dalam hal ini, sekolah menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan inklusif demi meningkatkan mutu pendidikan.
Harapan Mendikdasmen dari Kasus Siswa SMAN 1 Purwakarta
- ANTARA
Mu'ti pun menyampaikan harapan besarnya. Kasus ini setidaknya menjadi pengalaman berharga agar bisa meningkatkan cerminan pendidikan dan karakter yang baik.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Ia mengimbau seluruh sekolah, terutama siswa wajib menghormati para guru.
"Semoga menjadi pengalaman yang mudah-mudahan tidak terjadi lagi di tempat yang lainnya," harapnya.
Ia menambahkan, seluruh sekolah diharapkan dapat menciptakan suasana aman dan nyaman. Harapan itu telah tertera sesuai dengan aturan dari pemerintah melalui Permendikdasmen.
"Kami juga mengimbau semua sekolah agar aman dan nyaman, semuanya wajib saling menghormati, apalagi sudah ada iikrar Pelajar Pancasila di mana mereka wajib menghormati, mencintai orang tua dan guru. Ini bisa kita tekankan demi membangun sekolah yang aman," tegasnya.
Ia menginginkan pendidikan di Indonesia menjadi salah satu bagian dari proses menciptakan peradaban. Nantinya, aspek lain akan bangun sendiri, mulai dari akhlak yang mulai dan sebagainya.
Reaksi Dedi Mulyadi soal Kasus Siswa SMAN 1 Purwakarta
- YouTube
Sebelumnya, Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jabar juga langsung turun tangan. Komentarnya menyusul dari video viral menunjukkan beberapa siswa mengejek, menjulurkan lidah hingga mengacungkan jari tengah.
KDM sapaan akrabnya merasa prihatin atas peristiwa tersebut. Ia juga telah mendapat kronologi lengkapnya dari Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar, Purwanto.
Mantan Bupati Purwakarta ini menambahkan, pihak sekolah juga langsung bertindak. SMAN 1 Purwakarta telah mengambil keputusan untuk menghukum sejumlah siswa dengan sistem skorsing.
"Dan Selanjutnya berdasarkan informasi anak tersebut, orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah, orang tuanya menangis, mereka menyesal atas tindakan anaknya," ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya.
Walau begitu, KDM melihat hukuman tersebut tidak seberapa. Hal ini membuat mereka tidak pergi untuk belajar di sekolah.
Ia mmemberikan saran hukuman yang menjadi pertimbangan pihak sekolah. Setidaknya beberapa siswa membersihkan lingkungan sekolah.
"Ini saran mudah-mudahan sarannya bisa digunakan, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari, dan membersihkan toilet," bebernya.
KDM menjelaskan alasan hukuman skorsing harus diganti dengan membersihkan halaman sekolah. Ia berpendapat hukuman ini dapat memberikan manfaat untuk mereka.
Kata dia, hukuman membersihkan sekolah dapat membentuk karakter siswa. Pasalnya, mereka masih membutuhkan bimbingan dari peran orang tua dan guru.
"Prinsip dasarnya yaitu setiap hukuman yang diberikan itu harus hukuman yang dapat memberikan manfaat, terutama bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan juga gurunya," paparnya.
Kronologi Siswa SMAN 1 Purwakarta Ejek Guru
Kadisdik Jabar, Purwanto mengungkap kronologi kasus siswa SMAN 1 Purwakarta yang terekam dalam video viral berdurasi 31 detik. Ia mengatakan, kasus ini melibatkan sembilan siswa kelas XI IPS.
Ia mengatakan, kasus ini sebenarnya sudah terjadi pada Kamis (16/4/2026). Karena ada yang merekam, video tersebut baru viral di media sosial dari Sabtu, 18 April 2026.
Ia menuturkan, aksi perundungan ini terjadi setelah kegiatan belajar mengajar (KBM). Mereka baru saja belajar tentang pengolahan aneka makanan.
Ironisnya, seorang guru perempuan menjadi sasaran aksi perundungan dari sembilan siswa. Ada yang mengacungkan jari tengah hingga mengejak dan mengeluarkan lidahnya.
Sontak, mereka membuat video pernyataan yang dipimpin oleh siswa bernama Nabila. Selepas itu, teman satu kelasnya mengikuti ucapan permintaan maaf.
"Perkenalkan saya Nabila, perwakilan dari kelas 11 IPS memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada Ibu S, kepada Kepala Sekolah beserta guru-guru, dan alumni," ucapnya sambil diikuti teman satu kelasnya.
"Saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas kepada ibu guru kami yaitu ibu S. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, Wassalamu’alaikum waromhatullahi wabarokatuh," lanjut mereka.
Sementara, guru PKN SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah memberikan pernyataan bebrkelasnya. Ia telah memaafkan para siswa yang merendahkan martabat guru.
"Saya telah memaafkan anak didik saya, apalagi sekolah merupakan lembaga pendidikan," kata Syamsiah.
(hap)