- istimewa - antaranews
Dampak Mengerikan Konflik Iran dengan AS, Harga Kondom Meroket
tvOnenews.com - Konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) ternyata berdampak mengerikan. Pasalnya, berimbas terhadap sejumlah sektor. Seperti plastik, hingga membuat harga alat kontrasepsi atau kondom menjadi meroket.
Hal ini mencuat karena dari kebijakan terbaru oleh raksasa produsen kondom terbesar di dunia, yakni Karex Bhd yang berencana menaikkan harga jual produknya.
Bahkan kenaikan harganya tak tanggung-tanggung, seperti perusahaan kondom asal Malaysia tersebut akan menerapkan kenaikan harga sebesar 20 hingga 30 persen.
Kebijakan ini diambil menyusul kekhawatiran atas gangguan rantai pasok global yang terus berlanjut sebagai dampak dari perang Iran.
Chief Executive Officer (CEO) Karex Bhd, Goh Miah Kiat menyatakan pihaknya tak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan kenaikan harga lebih jauh jika gangguan distribusi logistik akibat konflik di Timur Tengah tersebut terus berlarut-larut.
Selain faktor biaya, Karex saat ini tengah menghadapi lonjakan permintaan yang signifikan.
Hal ini diperparah dengan melambungnya biaya logistik dan keterlambatan pengiriman yang membuat stok barang di tangan pelanggan jauh lebih rendah dari tingkat normal.
"Situasinya jelas sangat rapuh, harga-harga mahal... Kami tidak punya pilihan selain memindahkan biaya tersebut saat ini kepada pelanggan," ujar Goh seperti dikutip pada Selasa (21/4/2026).
Kemudian, ia menjelaskan bahwa sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, Karex harus menanggung kenaikan biaya produksi di hampir seluruh lini.
Kenaikan mencakup bahan karet sintetis dan nitril untuk bahan baku kondom, hingga material pengemasan dan pelumas seperti aluminium foil serta minyak silikon.
Meskipun biaya operasional meningkat, Goh memastikan bahwa Karex masih memiliki pasokan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Perusahaan juga berupaya menggenjot hasil produksi demi memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.
Kekhawatiran akan kelangkaan produk muncul setelah stok kondom dunia merosot tajam menyusul pemotongan besar-besaran anggaran bantuan luar negeri, terutama oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada tahun lalu.
Di awal tahun 2026 sendiri, permintaan kondom tercatat melonjak sekitar 30 persen.
Namun, masalah distribusi di jalur laut semakin memperparah kondisi kekurangan stok di berbagai belahan dunia.
Pengiriman produk Karex ke tujuan utama seperti Eropa dan Amerika Serikat kini memakan waktu hampir dua bulan, dua kali lipat lebih lama dibandingkan durasi normal yang biasanya hanya memakan waktu satu bulan.
"Kami melihat lebih banyak kondom sebenarnya tertahan di kapal-kapal yang belum tiba di tujuan namun sangat dibutuhkan," jelas Goh.
Bahkan kata dia, banyak negara berkembang saat ini tidak memiliki stok yang memadai karena hambatan waktu pengiriman tersebut. (aag)