- YouTube Kang Dedi Mulyadi
Sejalan dengan Dedi Mulyadi, Kadisdik Jawa Barat akan Beri Sanksi Selama 3 Bulan pada Siswa SMAN 1 Purwakarta
Jakarta, tvOnenews.com- Sejalan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Dinas Pendidikan Jawa Barat menindak tegas kasus di SMAN 1 Purwakarta. Para siswa yang terlibat diberi sanksi.
- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Video siswa SMAN 1 Purwakarta viral karena acung jari tengah ke guru menuai ragam reaksi. Salah satunya, reaksi dari Gubernur Dedi Mulyadi waktu lalu agar diberi sanksi tanpa skorsing.
Sebelumnya, pihak sekolah SMAN 1 Purwakarta menindak tegas dengan memberikan skorsing selama 19 hari. Hal inipun dianggap kurang tepat oleh Kang Dedi Mulyadi.
Dengan ini, Kadisdik Jabar, Purwanto menegaskan, pendekatan yang dilakukan tetap mengedepankan prinsip pendidikan.
“Sanksinya bukan sekadar hukuman, tetapi pembinaan. Mereka tetap berada dalam ekosistem pendidikan,” ujarnya, dijutip dikutip dari Jabarp,rov, Rabu (22/4).
Dengan begitu, Kadisdik memastikan kalau para siswa yang terlibat kurang lebih 9 orang akan segera dibimbing.
Menurutnya sanksi skorsing tidak diberikan. Sehingga para siswa tetap bisa mengikuti kegiatan belajar dan mengajar (KBM).
Dalam keterangannya, Purwanto memastikan para siswa yang acung jari tengah itu akan diberi sanksi selama 3 bulan lamanya di lingkungan sekolah.
Disampaikan, mereka akan menjalani pembinaan selama tiga bulan melalui kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
"Selama proses tersebut, mereka tetap mengikuti pembelajaran dan mendapatkan pendampingan intensif dari guru serta psikolog," ungkap Kadisdik.
Purwanto mengatakan, jika peristiwa yang viral di media sosial kemarin, dipicu dinamika saat pembelajaran berlangsung.
Namun tindakan para siswa dilakukan secara sengaja. Sehingga ada sanksi sosial yang diterima.
Diketahui juga, kalau kejadian bermula saat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang diampu oleh guru bernama Syamsiah atau dikenal dengan Bu Atun.
Bukan hanya itu, kata Kadisdik Jabar itu, peran orang tua juga diperkuat. Sehingga setiap pekannya orang tua diwajibkan hadir ke sekolah untuk bersama-sama mengevaluasi perkembangan anak.
- YouTube Kang Dedi Mulyadi
Menurutnya, peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai kesalahan satu pihak semata. Setiap perilaku siswa sekolah juga didukung oleh banyak faktor.