- Antara
PSEL Jadi Solusi Strategis: Ditargetkan Kurangi 33.000 Ton Sampah Per Hari pada 2029 dan Hasilkan Listrik
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mematok target besar dalam penanganan masalah limbah nasional melalui pembangunan instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Fasilitas ini diproyeksikan mampu memangkas timbulan sampah hingga 33.000 ton setiap harinya pada tahun 2029 mendatang.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan strategi krusial untuk menekan volume sampah di tingkat nasional secara signifikan.
"PSEL ditargetkan dapat mengurangi timbulan sampah sekitar 33.000 ton per hari (pada 2029) atau setara 22,48 persen dari total timbulan sampah nasional," ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4).
Pemerintah terus mempercepat proyek PSEL ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan standar hidup masyarakat dan menjawab masalah pelik pengelolaan sampah.
Saat ini, total sampah yang diproduksi di Indonesia mencapai 140 ribu ton per hari, sementara daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kian menipis dan sistem reduce-reuse-recycle (3R) belum memberikan hasil maksimal.
Menurut Qodari, teknologi termal seperti insinerasi yang diterapkan pada PSEL tidak hanya efektif menyusutkan volume sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa pasokan listrik.
Fokus pembangunan akan diarahkan pada daerah urban yang memiliki produksi sampah harian di atas 1.000 ton.
Efek positif dari pengurangan sampah ini juga diyakini akan berdampak langsung pada derajat kesehatan warga, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar area TPA, seiring dengan berkurangnya risiko penularan penyakit.
"Dalam jangka panjang, keberadaan PSEL diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, serta memperkuat peran daerah dalam mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon," tutur Qodari.
Dari sisi teknis, setiap fasilitas PSEL dengan kapasitas input 1.000 ton sampah per hari memiliki potensi menghasilkan energi listrik rata-rata sebesar 25 MW. Selain itu, proyek ini dipandang memiliki multiplier effect bagi perekonomian lokal.
"PSEL juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi, antara lain melalui investasi, penciptaan lapangan kerja baru, dan peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi," tambahnya.
Lebih lanjut, keberadaan teknologi ini diharapkan menjadi sarana transfer ilmu dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor pengolahan limbah.
Pemerintah berencana menyebar pembangunan PSEL di 30 titik atau aglomerasi yang mencakup 61 kabupaten/kota di Indonesia.
Sebagai tahap awal, peletakan batu pertama (groundbreaking) direncanakan mulai berjalan pada Juni 2026.
Terdapat lima wilayah yang menjadi prioritas tahap pertama, yakni Kota Bekasi, Kota Yogyakarta, kawasan Bogor Raya, Denpasar Raya, serta Bandung Raya. (ant/dpi)