- BPMI Setpres
Terburuk Sepanjang Sejarah, Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Airlangga: Akibat Gejolak Global
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar Rupiah anjlok ke level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi. Kondisi ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah.
Nilai rupiah melemah sekitar 0,74 persen dibanding posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Pelemahan ini membuat rupiah menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini, sekaligus mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah terhadap mata uang Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona merah. Namun, depresiasi rupiah tercatat paling dalam dibanding mata uang regional lainnya.
Philippine peso menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar kedua setelah rupiah, turun 0,57 persen terhadap dolar AS.
Di bawahnya, Thai baht terkoreksi 0,35 persen, sementara Malaysian ringgit melemah 0,28 persen.
Tekanan juga dialami New Taiwan dollar yang turun 0,13 persen, disusul South Korean won yang terkoreksi 0,09 persen.
Sementara itu, Dolar Singapura tercatat melemah 0,07 persen dan Chinese yuan turun 0,03 persen.
Yen Jepang juga berada di zona negatif, meski hanya turun tipis sekitar 0,006 persen terhadap greenback.
Di tengah tekanan regional tersebut, Hong Kong dollar menjadi satu-satunya mata uang Asia yang bergerak menguat, meski kenaikannya hanya sekitar 0,02 persen.
Pergerakan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk di Asia pada sesi perdagangan pagi, sekaligus menambah sorotan terhadap tekanan yang tengah dihadapi pasar keuangan domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai tekanan terhadap nilai tukar Rupiah tidak lepas dari dinamika global yang sedang bergejolak.
Airlangga menyebut pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, sehingga pemerintah memilih terus mencermati perkembangan pasar sebelum mengambil langkah lanjutan.
“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Airlangga ditemui di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (23/4/2026)
Ia menegaskan pemerintah bersama otoritas terkait terus memantau pergerakan kurs, terutama karena asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2026 dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.
Menurutnya, fluktuasi kurs tidak bisa direspons secara tergesa-gesa dari hari ke hari, karena pengelolaan stabilitas moneter membutuhkan pendekatan terukur.
“Kita monitor saja, karena ini kan gak bisa kita setiap hari reaktif. Kita monitor saja, dan itu BI (Bank Indonesia) tugasnya menjaga,” ujarnya.
Airlangga menambahkan peran Bank Indonesia tetap menjadi kunci dalam menjaga kestabilan nilai tukar di tengah tekanan pasar keuangan global.
Sementara itu, analis Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi memanasnya tensi geopolitik, terutama konflik antara United States dan Iran.
Menurutnya, situasi tersebut mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan minat investor terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven.
“Konflik di Timur Tengah khususnya ketegangan antara AS dan Iran mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujarnya.
Dari faktor domestik, ia melihat keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen menunjukkan fokus otoritas moneter pada penguatan stabilitas kurs di tengah tekanan eksternal.
Selain menahan suku bunga, BI juga disebut mengambil langkah tambahan untuk meredam gejolak di pasar valuta asing melalui penyesuaian instrumen intervensi.
Salah satu kebijakan yang dilakukan yakni menaikkan batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Kebijakan itu ditujukan untuk membantu mengurangi tekanan di pasar spot sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
Menurut Amru, arah pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat ditentukan sejumlah faktor eksternal, termasuk perkembangan geopolitik global, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan dalam negeri.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujarnya.
Pemerintah dan otoritas moneter kini disebut terus memantau perkembangan pasar, seiring meningkatnya perhatian terhadap volatilitas rupiah di tengah tekanan global yang belum mereda. (ant/nba)