- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Dear Pramono! Dedi Mulyadi Beri Solusi Basmi Ikan Sapu-sapu di Jakarta, Tak Cukup Ditangkap
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai upaya memberantas ikan sapu-sapu di sungai tidak cukup hanya melalui penangkapan massal. Tetapi juga harus dibarengi pemulihan kualitas air agar ekosistem sungai kembali sehat.
Pernyataan itu disampaikan Dedi Mulyadi menanggapi langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang belakangan gencar melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah ibu kota.
Menurut Dedi Mulyadi, pengendalian ikan invasif tersebut membutuhkan dua langkah yang berjalan beriringan, yakni mengurangi populasinya di sungai dan memperbaiki kondisi perairan agar spesies ikan lokal dapat kembali berkembang.
“Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal: pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan-ikan endemiknya hidup lagi,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia menambahkan, ketika mutu air sungai membaik, habitat akan kembali mendukung pertumbuhan ikan endemik yang selama ini tersingkir. Kehadiran ikan lokal itu, kata dia, bisa menekan dominasi ikan sapu-sapu secara alami.
Dedi Mulyadi juga memandang ledakan populasi ikan sapu-sapu di berbagai sungai merupakan indikator menurunnya kualitas lingkungan perairan.
“Sapu-sapu untuk seluruh daerah ya ambil saja, tangkap saja. Sapu-sapu itu tumbuh manakala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas,” katanya.
Dedi Mulyadi menjelaskan ikan sapu-sapu mampu bertahan di perairan tercemar, berbeda dengan ikan-ikan lokal yang memerlukan kondisi air lebih baik untuk hidup. Ketika kualitas sungai memburuk, spesies endemik perlahan hilang dan ruang ekosistem dikuasai ikan invasif.
“Kalau sungainya mengalami penurunan kualitas, maka ikan yang hidup itu hanya sapu-sapu,” ucap Dedi.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan operasi penangkapan untuk menekan populasi ikan sapu-sapu yang dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem sungai.
Dalam operasi pada Jumat (17/4/2026), sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total bobot 6,9 ton berhasil diamankan dari lima wilayah Jakarta.
Wilayah Jakarta Selatan mencatat hasil penangkapan tertinggi dengan 63.600 ekor berbobot 5,3 ton, terutama dari area Pintu Air Outlet Setu Babakan, Jagakarsa.
Di Jakarta Timur, petugas menangkap 4.128 ekor dengan berat mencapai 825,5 kilogram. Sementara Jakarta Pusat mencatat 536 ekor seberat 565 kilogram, Jakarta Utara 545 ekor dengan berat 271 kilogram, dan Jakarta Barat 71 ekor seberat 17 kilogram.
Di tingkat nasional, pemerintah pusat juga menyiapkan langkah regulasi untuk mendukung pengendalian ikan sapu-sapu.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini menyusun revisi Peraturan Menteri guna memperkuat pengaturan pengendalian spesies invasif tersebut.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Haeru Rahayu mengatakan perubahan aturan dilakukan agar kebijakan yang diterapkan lebih relevan dengan tantangan di lapangan.
“Saat ini sedang dilakukan revisi supaya bisa lebih aplikatif dalam rangka pengendalian populasi ikan sapu-sapu ini,” ujar Haeru.
Haeru mengakui penanganan ikan sapu-sapu memiliki tantangan besar. Hingga kini belum ditemukan predator alami yang efektif mengendalikan populasinya, sementara pendekatan berbasis bahan kimia dinilai berisiko bagi lingkungan.
“Banyak cara sebetulnya, tapi secara biologis belum ada predatornya. Secara kimia juga punya persoalan dengan lingkungan. Metode konvensional seperti ini yang paling efektif hingga saat ini,” jelasnya.
Menurut dia, metode penangkapan langsung masih menjadi cara paling realistis untuk menekan jumlah ikan sapu-sapu saat ini. KKP juga membuka ruang kerja sama dengan pemerintah daerah agar pengendalian dapat dilakukan lebih masif.
Pemerintah berharap kombinasi penangkapan populasi, penguatan regulasi, dan perbaikan kualitas ekosistem sungai dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menekan ancaman ikan sapu-sapu terhadap kelestarian perairan. (nba)