- istimewa
Dugaan Malapraktik di RS Muhammadiyah Medan, DPR Singgung Budaya Elitis Dokter: Jeruk Makan Jeruk Harus Dibongkar
Jakarta, tvOnenews.com – Dugaan malapraktik di RS Muhammadiyah Medan tak hanya dipersoalkan sebagai pelanggaran medis.
DPR RI justru menyoroti masalah yang lebih dalam, yakni perihal budaya elitis di dunia kedokteran yang dinilai membuat praktik-praktik bermasalah sulit terungkap.
Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani, menilai kasus ini menjadi pintu masuk untuk membongkar persoalan lama dalam sistem kesehatan.
“Menurut saya menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin, adalah menkes yg berfikiran out of the box, beliau banyak merubah tatakelola jeruk makan jeruk yg selama ini terjadi, karena sikap elitis dan arogansi dokter menyebabkan beberapa tindakan tercela (bulying ppds) tidak akan terkuak dan diperbaiki, jika menkes nya tidak profesional dan cenderung menutupi dengan alasan ‘menjaga kepercayaan pasien thd dokter’,” ujar Irma saat dikonfirmasi tvOnenews.com, Sabtu (25/4/2026).
Ia menyebut, selama ini ada kecenderungan menutup-nutupi kasus di internal profesi dengan dalih menjaga kepercayaan publik, yang justru berpotensi merugikan pasien.
Kasus dugaan pengangkatan rahim tanpa persetujuan di RS Muhammadiyah Medan, kata Irma, harus menjadi momentum evaluasi total, tidak hanya pada individu tenaga medis, tetapi juga sistem pengawasan dan budaya di dalamnya.
Irma memandang, tanpa keberanian membongkar praktik “jeruk makan jeruk”, berbagai pelanggaran etik berpotensi terus berulang.
Karena itu, DPR mendorong penanganan kasus ini dilakukan secara terbuka dan menyeluruh, agar kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan tidak terus tergerus.
Seperti diketahui, malapraktik kembali terjadi di Rumah Sakit Kota Medan. Kabar ini beredar di media sosial hingga menyedot perhatian publik dan menuai komentar warganet.
Berdasarkan keterangan yang beredar di media sosial dan media massa, seorang ibu rumah tangga bernama Mimi Maisyarah (48) diduga jadi korban tersebut di RS Muhammadiyah, Kota Medan.
Kini, kondisi korban sedang kritis setelah menjalani operasi pengangkatan rahim di Rumah Sakit Muhammadiyah Medan.
Keluarga menduga adanya malapraktik lantaran pihak rumah sakit melakukan tindakan operasi tanpa prosedur biopsi terlebih dahulu, yang berujung pada diagnosa yang salah dan kondisi luka yang memburuk.