- istimewa
RS Polri Penuh Tangis Keluarga Korban Kecelakaan Maut Kereta Api Bekasi Timur
Jakarta, tvOnenews.com - Tangisan keluarga korban kecelakaan maut kereta api Stasiun Bekasi Timur pecah, di Rumah Sakit Bhayangkara Polri (RS Polri). Rasa duka mendalam begitu dirasakan keluarga korban yang hadir di ruangan konferensi pers.
Mereka mengikuti langsung pengumuman hasil identifikasi jenazah korban yang dilakukan RS Polri.
Dari pantauan awak media, tangisan keluarga korban pecah, saat nama-nama korban mulai dibacakan.
Bahkan, mereka terlihat saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain.
Setelahnya, keluarga korban menuju rumah duka RS Polri. Mereka menunggu proses serah terima jenazah.
Berikut identitas 10 jenazah yang teridentifikasi di RS Polri:
1. Tutik Anitasari (P/31)
2. Harum Anjasari (P/27)
3. Nur Alimantun Citra Lestari (P/19)
4. Farida Utami (P/52)
5. Vica Acnia Fratiwi (P/23)
6. Ida Nuraida (P/48)
7. Gita Septia Wardany (P/20)
8. Fatmawati Rahmayani (P/29)
9. Arinjani Novita Sari (P/25)
10. Nur Ainia Eka Rahmadhyna (P/32).
Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Seksi Kumpul Olah dan Kaji Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe menerangkan, KA Argo Bromo Anggrek saat menabrak KRL diketahui memiliki kecepatan 110 KM per jam.
“Di mana ketika itu (KA Argo Bromo Anggrek) sedang melintas dengan kecepatan 110 kilometer per jam,” kata Sandhi, kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, Sandhi menerangkan awal mula kecelakaan ini diduga diakibatkan karena taksi Green SM yang mengalami korsleting listrik da terhenti di tengah perlintasan rel kereta.
“Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik, ya. Di mana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera,” kata Sandhi.
Selanjutnya atas peristiwa tersebut, terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan taksi tersebut, sehingga mengganggu proses perjalanan kereta api-kereta api yang lain.
“Kecelakaan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan mobil listrik sebenarnya hanya rugi material. Namun akibatnya, karena perjalanan kereta api lainnya terganggu, KRL yang menunggu proses evakuasi,” terangnya.
Selanjutnya diduga kurang koordinasi dan penyampaian informasi secara menyeluruh, terjadi kecelakaan antara KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur.
“Mungkin akibat kurangnya koordinasi ataupun informasi, tidak mampu memberikan informasi menyeluruh ataupun akurat kepada kereta api Argo Bromo Anggrek. Akibat kurangnya informasi dan koordinasi tersebut, terjadilah tabrakan di stasiun Bekasi Timur lebih tepatnya yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia,” terangnya.
Sementara itu, Sandhi mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah melakukan penyidikan melalui teknologi dan metode TAA atau Traffic Accident Analysis.
“Di mana fungsinya untuk melihat proses kecelakaan pada saat sebelum, pada saat kecelakaan itu terjadi, dan pada saat sesudah terjadi kecelakaan. Tujuannya apa? Tujuannya untuk memudahkan penyidik laka lantas Polri dalam rangka membuat terang sebuah tindak pidana kejahatan lalu lintas,” ujarnya. (aag)