- Istimewa
KIE Jakarta Summit Tekankan Riset Interdisipliner sebagai Kunci Kebijakan Nasional, Kolaborasi RI–Australia Diperkuat
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah mendorong pendekatan riset interdisipliner sebagai fondasi percepatan pembangunan nasional. Hal ini mengemuka dalam forum Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan negara untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim dan ketimpangan sosial.
Diskusi bertajuk From Research to Policy Delivery: Accelerating Impact for Indonesia’s Development Priorities menegaskan bahwa riset tidak lagi cukup berdiri sendiri, tetapi harus terhubung langsung dengan kebijakan publik yang konkret.
Riset Jadi Pilar Kebijakan Pembangunan
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menegaskan bahwa pemerintah mengandalkan pendekatan berbasis bukti dalam setiap proses perencanaan pembangunan.
Menurutnya, riset menjadi landasan utama dalam menyusun kebijakan, baik dalam rencana jangka panjang maupun jangka menengah nasional.
“Kami selalu menggunakan riset sebagai dasar sebelum perencanaan diterapkan di masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah masuk sebagai salah satu prioritas nasional dalam kerangka pembangunan Indonesia.
Lonjakan Riset, Fokus pada Pangan hingga Kemiskinan
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengungkapkan tren peningkatan signifikan dalam jumlah proposal riset di Indonesia.
Dalam satu tahun terakhir, jumlah proposal riset mencapai 120.000, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, pemerintah mendanai sekitar 10.000 penelitian dengan fokus pada sektor prioritas, antara lain:
-
Ketahanan pangan
-
Kesehatan
-
Pengentasan kemiskinan
“Hasil survei menunjukkan sekitar 50 persen masyarakat sudah memahami pentingnya riset, terutama di sektor-sektor tersebut,” jelas Fauzan.
Kolaborasi RI–Australia Semakin Kuat
Kemitraan internasional, khususnya antara Indonesia dan Australia, juga menjadi sorotan dalam forum ini. Minister Counsellor Australian Embassy Jakarta, Tim Stapleton, menekankan hubungan kuat dalam bidang pendidikan dan penelitian.
Ia menyebut lebih dari 25.000 pelajar Indonesia belajar di Australia, sementara lebih dari 13.500 pelajar Australia datang ke Indonesia untuk belajar dan bekerja.
“Australia menjadi salah satu mitra penelitian paling populer bagi Indonesia,” ujarnya.
Kolaborasi ini dinilai penting untuk menghasilkan riset yang tidak hanya akademis, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung pada kebijakan.
Interdisipliner Jadi Kunci Solusi Kompleks
CEO Australian Council of Learned Academies (ACOLA), Prerana Mehta, menekankan bahwa tantangan pembangunan modern tidak bisa diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.
Pendekatan interdisipliner dinilai mampu menghasilkan solusi yang lebih relevan dan implementatif.
“Penelitian interdisipliner menghasilkan pengetahuan yang lebih dapat digunakan dan berpotensi besar memengaruhi keputusan penting,” katanya.
Pendekatan ini menggabungkan berbagai perspektif lintas bidang untuk menciptakan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan global.
Dorong Kemitraan Inklusif dan Berbasis Dampak
Pakar dari University of Technology Sydney, Juliet Willets, menambahkan pentingnya membangun kemitraan riset yang inklusif dan setara.
Menurutnya, kolaborasi lintas negara harus memperhatikan keadilan dan partisipasi semua pihak agar hasilnya benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Bappenas Tekankan Relevansi dan Implementasi
Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Bappenas, Endang Sulastri, menyoroti pentingnya memastikan riset memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan kebijakan.
Ia menekankan tiga aspek utama dalam kemitraan riset:
-
Relevansi dengan kebutuhan kebijakan nyata
-
Keterlibatan pemerintah sejak awal proses penelitian
-
Output yang dapat ditindaklanjuti secara konkret
“Output riset harus mampu memberikan opsi kebijakan yang bisa diimplementasikan,” tegasnya.
Dorong Pembangunan Inklusif dan Berkelanjutan
Melalui platform kemitraan seperti KONEKSI, pendekatan riset berbasis kolaborasi dan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) diharapkan mampu memperkuat pembangunan nasional.
Pendekatan ini menargetkan kebijakan yang lebih inklusif, tangguh terhadap perubahan iklim, serta berkelanjutan dalam jangka panjang.
KIE Jakarta Summit menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan mitra internasional dalam menghadirkan kebijakan berbasis riset yang berdampak nyata bagi masyarakat. (nsp)