news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.
Sumber :
  • Istimewa

Libur Panjang Mei 2026 Bukan Ancaman, Anindya Bakrie Tegaskan Industri Harus Tetap Produktif dan Kompetitif

Libur panjang Mei 2026 dinilai bukan ancaman industri. Anindya Bakrie tegaskan dunia usaha harus tetap produktif, efisien, dan kompetitif.
Kamis, 30 April 2026 - 17:41 WIB
Reporter:
Editor :

 

Jakarta, tvOnenews.com - Deretan hari libur nasional sepanjang Mei 2026 memunculkan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan produktivitas sektor industri, khususnya manufaktur. Namun, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi ancaman serius bagi dunia usaha.

Ia menilai, tantangan utama industri bukan terletak pada jumlah hari kerja, melainkan kemampuan perusahaan dalam menjaga daya saing di tengah dinamika pasar global.

Adaptasi Jadi Kunci di Tengah Kalender Kerja Padat Libur

Menurut Anindya, dunia usaha harus mampu beradaptasi dengan perubahan, termasuk dalam menghadapi banyaknya hari libur nasional. Ia menekankan bahwa fleksibilitas dan strategi bisnis yang tepat menjadi faktor penentu keberlanjutan industri.

“Dunia usaha harus menyesuaikan diri dengan permintaan pasar dan persaingan. Efisiensi memang penting, tapi tetap harus diimbangi dengan kemampuan bersaing,” ujarnya.

Ia menambahkan, perusahaan tidak bisa hanya fokus pada pengurangan biaya operasional, tetapi juga harus memastikan produk dan layanan tetap kompetitif di pasar domestik maupun internasional.

Hak Tenaga Kerja Tetap Prioritas

Anindya juga mengingatkan bahwa keberadaan hari libur tidak bisa diabaikan karena merupakan bagian dari hak tenaga kerja. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyikapi kondisi ini secara bijak tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.

“Setiap hari libur harus dihormati karena berkaitan dengan tenaga kerja. Namun, dunia usaha tetap harus melakukan yang terbaik agar tetap kompetitif,” tegasnya.

Dengan kata lain, keseimbangan antara produktivitas dan perlindungan tenaga kerja menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan kalender kerja yang padat libur.

Surplus Perdagangan Jadi Sinyal Optimisme

Di tengah kekhawatiran tersebut, Anindya justru melihat adanya peluang ekonomi yang tetap terbuka lebar. Ia menyoroti kinerja perdagangan Indonesia yang masih menunjukkan tren positif dengan surplus bulanan signifikan.

Menurutnya, capaian surplus perdagangan sebesar US$1 hingga US$1,5 miliar per bulan menjadi indikator bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

“Ini peluang yang tidak boleh disia-siakan. Artinya, aktivitas ekonomi masih berjalan dan bisa terus didorong,” jelasnya.

Fokus pada Pertumbuhan dan Lapangan Kerja

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:19
01:18
05:01
01:45
01:05
01:11

Viral