- istimewa
Dedi Mulyadi Dikalahkan Pramono Anung dalam Survei Gubernur Berkinerja Terbaik Versi Anak Muda
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM) dikalahkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda dalam survei Gubernur berkinerja terbaik di Indonesia versi anak muda.
Pramono berada di peringkat kedua, dan Dedi Mulyadi di peringkat ketiga. Gubernur yang paling banyak dinilai berkinerja terbaik yakni Sherly Tjoanda.
Survei tersebut dilakukan oleh Muda Bicara ID, platform berbasis kelompok muda dalam isu politik, sosial, kebijakan dan demokrasi, pada periode 1-30 Maret 2026.
Sherly dipilih 18,50 persen responden, Pramono dipilih 17,30 persen responden dan Dedi Mulyadi dipilih 17,10 responden.
Sementara di peringkat ke-4 adalah Gubernur Yogyakarta Sri Sultan HB X dengan dipilih 15 persen responden, dan ke-5 Gubernur Aceh Muzakir Manaf, dipilih 7,20 persen responden.
Dilansir dari berbagai sumber, Pimred Muda Bicara ID, M. Iqbal Khatami jelaskan, dari responden yang memilih gubernur pilihannya, diambil sampel secara acak untuk ditanyakan alasannya.
Sherly Tjoanda dinilai membawa pendekatan pembangunan yang inklusif dan merakyat, serta cukup aktif di media sosial.
Sementara, responden memilih Pramono Anung karena kebijakannya selalu mendapat sorotan, karena memimpin Ibu Kota, terutama terkait transportasi dan tata kota.
Untuk Dedi Mulyadi, responden memilihnya karena dinilai memiliki gaya komunikasi yang autentik dan dekat dengan masyarakat.
"itu yang kita tanyakan ke beberapa responden yang kita sampling untuk ditelepon."
"Jadi dari 800 (responden) itu kita hanya nelepon 15 orang kalau gak salah, untuk kita tanyakan mengapa mereka memilih itu," ungkap Iqbal pada Senin (4/5/2026).
Dalam hal ini, ia menjelaskan, survei kinerja kepala daerah ini dilakukan secara universal, tidak parsial per wilayah.
Maka, responden di suatu daerah bisa memilih Gubernur daerah lain, yang dinilainya memiliki kinerja terbaik.
Secara teknis, responden ditampilkan seluruh nama Gubernur di Indonesia, lalu mereka diminta memilih gubernur dengan kinerja terbaik, dan boleh beberapa nama dari daerah mana saja.
"Mana yang menurut anak muda itu memiliki kinerja yang baik lah di tingkat daerah. Nanti mereka memilih beberapa nama dan hasilnya yang tercantum itu.
Survei ini sendiri menggunakan 800 responden dengan kriteria berusia 17-40 tahun, dari seluruh Indonesia, yang persebarannya disesuaikan dengan struktur demografi asli Indonesia.
"Kita batasi di usia 17 sampai 40 tahun. Kita ambil data populasinya itu dari BPS sebenarnya. Kalau respondennya sendiri kita memang pakai stratified random sampling. Jadi memang kita sudah punya data base, data anak muda dari berbagai latar belakang. Kalau di survei ini kita pisahkan dari jenis kelamin, kemudian dari segi usia, selain itu juga dari persebaran provinsi, kita ngambil proporsi nasional, jadi memang lebih banyak di Jawa, 52 persen di Jawa, sisanya tersebar se-Indonesia. Termasuk juga latar belakang profesi juga kita proporsionalkan, dan pendidikan terakhir kita proporsioanalkan," papar Iqbal.
Populasi: Sejalan dengan data populasi nasional, responden asal Pulau Jawa mendominasi dengan 52,6 persen. Proporsi wilayah lain juga mengikuti distribusi penduduk riil, di mana Sumatera menjadi kontributor terbesar kedua (19,6 persen), diikuti oleh Maluku-Papua (10,3 persen), Sulawesi (7,1 persen), Kalimantan (6,3 persen), dan Bali-Nusra (4,1 persen).
Dominasi Pekerja Swasta dan Freelancer: Sektor Pekerja Swasta (35,0 persen) adalah profesi utama, diikuti oleh Freelancer (14,1 persen). Tingginya angka pekerja lepas ini relevan dengan tren gig economy
Tingkat Pendidikan: Mayoritas responden adalah lulusan SMA/Sederajat (48,5 persen) dan Strata 1 (42,2 persen). Dengan total 90,7 persen lulusan pendidikan menengah dan tinggi, responden memiliki literasi yang memadai untuk menilai kebijakan pemerintah dan mengadopsi teknologi baru.
Kondisi Finansial: Distribusi penghasilan bulanan didominasi oleh kelompok Rp4 juta – Rp7 juta (29,3 persen) dan Rp2 juta – Rp4 juta (27,7 persen). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelas ekonomi menengah yang sensitif terhadap kebijakan fiskal dan stabilitas harga nasional.
Dari 800 responden yang terpilih, mereka dikirimkan kuesioner melalui aplikasi pesan singkat dan surel untuk selanjutnya diisi dan dikirimkan kembali. (aag)