news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Disaksikan Ribuan Warga, Bupati Bogor Desak Dedi Mulyadi Buka Kembali Tambang Berizin: Tolong Kami.
Sumber :
  • istimewa

Disaksikan Ribuan Warga, Bupati Bogor Desak Dedi Mulyadi Buka Kembali Tambang Berizin: Tolong Kami

Di hadapan ribuan warga, Bupati Bogor Rudy Susmanto desak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi untuk kembali membuka tambang berizin,
Senin, 4 Mei 2026 - 18:23 WIB
Reporter:
Editor :

Bogor, tvOnenews.com - Di hadapan ribuan warga yang demo, Bupati Bogor Rudy Susmanto desak Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi untuk kembali membuka tambang berizin, di  Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, Senin (4/5/2026).

Dalam hal ini, ia Rudy juga menilai, kondisi tersebut telah memukul kehidupan masyarakat di wilayah barat Kabupaten Bogor.

“Pak Gubernur, tolong kami, puluhan ribu masyarakat kami hari ini bergantung terhadap tambang,” jelas Rudy dalam orasinya.

Rudy menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor telah menyuarakan aspirasi warga kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ribuan Warga Desak Dedi Mulyadi Buka Tambang yang Ditutup: Konten Berkilau, Kenyataannya Suram
Sumber :
  • istimewa

Ia menyebut masyarakat di Kecamatan Cigudeg, Rumpin, dan Parung Panjang siap mematuhi aturan jika aktivitas tambang kembali dibuka.

“Kami siap diatur. Kami siap mengikuti aturan. Kami siap menjaga lingkungan bersama-sama,” ucapnya.

Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Bogor juga menganggarkan pembebasan lahan untuk jalur khusus angkutan tambang pada tahun ini.

“Ini bukti keseriusan kami terhadap lingkungan dan para pelaku tambang,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemkab Bogor digeruduk ribuan warga. Pasalnya, ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Cigudeg, Rumpin, dan Parung Panjang berunjuk rasa dan menuntut tambang yang ditutup Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) segera dibuka kembali.

Aksi itu terjadi di lapangan Gedung Tegar Beriman, Pemkab Bogor, Cibinong, Senin (4/5/2026).

Dari pantauan awak media, warga membentangkan sejumlah spanduk bernada kritik, di antaranya bertuliskan "Konten Berkilau, Kenyataannya Suram".

Spanduk lain berbunyi, "Kami Butuh Bukti Bukan Janji, Kami Juga Butuh Makan Bukan Angan-Angan."

Di sudut spanduk tersebut terpampang foto Dedi Mulyadi disertai gambar truk tambang.

Ada pula spanduk dengan nada lebih keras bertuliskan, "Namanya Juga Anak Muda, Banyak Gayanya, Kalo Banyak Konten dan Janjinya, KDM Namanya!!"

Di samping itu, Koordinator aksi, Asep Fadlan jelaskan, pesan dalam spanduk mencerminkan kekecewaan warga atas belum adanya kejelasan setelah tujuh bulan penutupan tambang.

"Pak Gubernur dengan berbagai macam popularitas beliau, cara kerja beliau cukup dikenal bukan hanya di wilayah Jawa Barat. Wilayah Nusantara juga cukup dikenal dengan medsosnya, dengan konten-kontennya," ucap Asep Fadlan.

"Mungkin pengaduan rintihan kami ini tidak begitu didengar. Kita pure dari masyarakat, tidak ada buzzer, tidak ada apa," lanjutnya.

Ia menjelaskan, penutupan tambang yang bermula dari surat edaran gubernur pada 26 September 2025 telah memukul penghidupan warga di Cigudeg, Rumpin, dan Parung Panjang.

"Tuntutan kita cuma simple sebetulnya. Tambang dibuka kembali supaya ada aktivitas masyarakat," ujarnya.

Asep Fadlan menyebut jumlah warga terdampak mencapai puluhan ribu jiwa di tiga kecamatan tersebut.

Ia menilai angka itu lebih besar dari data resmi karena pendataan awal dilakukan secara singkat oleh pemerintah desa.

Selain menuntut pembukaan kembali tambang, massa juga menagih janji gubernur terkait bantuan sosial bagi warga terdampak serta pembangunan jalur khusus tambang.

"Bukan kita yang meminta, Pak Gubernur yang meminta bahwa akan memberikan bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak," kata dia.

Ia menilai, tujuh bulan tanpa aktivitas tambang telah mendorong wilayah tersebut ke kondisi darurat ekonomi sosial.

"Sudah banyak tingkat kriminal. Masyarakat ketika dipaksakan untuk beralih profesi, ya nggak bisa segampang itu," katanya.

Koordinator Wilayah Rumpin, Asep Muris, menggambarkan kondisi warga yang kian sulit. 

Menurutnya, sebagian warga kini mengambil batu dari pinggir kali dan tepi jalan untuk dipecah dan dijual demi bertahan hidup.

"Kalau bertani, karena memang gunungnya sudah dijual. Termasuk sawah-sawah juga sudah dijual. Sudah tidak ada lagi," kata Asep Muris.

Ia menambahkan, jeratan pinjaman online dan penarikan kendaraan oleh leasing turut memperparah kondisi warga.

Bahkan, angka perceraian di wilayah Rumpin disebut meningkat sejak aktivitas tambang berhenti. (aag)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
00:58
00:49
04:00
02:43
01:22

Viral