- tvOnenews/Syifa Aulia
AHY Beberkan Ancaman Penurunan Tanah di Jakarta–Semarang, Pemerintah Siapkan Giant Sea Wall Pantura
Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan bahwa fenomena penurunan permukaan tanah atau land subsidence semakin mengkhawatirkan di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menegaskan, kondisi paling parah saat ini terjadi di Jakarta dan Semarang, yang mengalami penurunan tanah signifikan setiap tahunnya.
Penurunan Tanah Capai 1–20 Cm per Tahun
AHY menjelaskan bahwa berdasarkan paparan pemerintah, laju penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah bisa mencapai 1 hingga 20 sentimeter per tahun.
“Seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden, telah terjadi penurunan permukaan tanah ini 1 hingga 20 cm setahun,” ujar AHY di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini tidak hanya terjadi di dua kota besar tersebut, tetapi juga mulai meluas ke berbagai daerah lain di Indonesia.
“Paling buruk terjadi di Jakarta dan juga di Semarang, tapi di daerah-daerah lainnya juga terus terjadi penurunan permukaan tanah,” lanjutnya.
Tekanan Ganda: Penurunan Tanah dan Kenaikan Air Laut
Selain penurunan tanah, Indonesia juga menghadapi ancaman lain berupa kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global. AHY menyebut fenomena ini sebagai “tekanan ganda” atau twin pressures.
Kenaikan muka air laut tercatat mencapai 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun. Kombinasi dua faktor ini meningkatkan risiko bencana, terutama di wilayah pesisir.
“Ini bisa dikatakan sebagai tekanan ganda,” ungkap AHY.
Ancaman Banjir Rob Makin Nyata
Dampak langsung dari fenomena tersebut adalah meningkatnya potensi banjir rob yang terus mengintai wilayah pesisir, khususnya di Pantai Utara Jawa.
Banjir rob tidak hanya merendam wilayah permukiman, tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur dan properti warga.
“Ini juga mengakibatkan banjir rob yang bisa menghancurkan properti dan merusak rumah-rumah warga,” kata AHY.
Kondisi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup masyarakat di kawasan pesisir.
Pemerintah Siapkan Giant Sea Wall di Pantura
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah berencana membangun tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di sepanjang pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Proyek ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi dampak banjir rob dan melindungi wilayah pesisir dari ancaman kenaikan air laut.
AHY menegaskan bahwa langkah ini harus segera direalisasikan guna mencegah risiko bencana yang lebih besar di masa depan.
Risiko Krisis Air dan Dampak Ekonomi
Selain ancaman banjir, AHY juga menyoroti potensi krisis air yang dapat terjadi akibat perubahan kondisi lingkungan tersebut.
Menurutnya, Indonesia tidak hanya menghadapi kelebihan air dalam bentuk banjir, tetapi juga berpotensi mengalami kekurangan air bersih di sejumlah wilayah.
“Bukan hanya menghadapi kelebihan air dalam bentuk banjir, tapi juga kelangkaan dan krisis air yang harus ditangani serius,” ujarnya.
Pantura Punya Peran Besar terhadap Ekonomi Nasional
AHY menekankan bahwa wilayah Pantura memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Jika tidak ditangani dengan baik, dampak kerusakan di kawasan ini dapat memicu kerugian besar.
Ia menyebut kontribusi ekonomi dari kawasan Pantura mencapai sekitar 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perlindungan kawasan pesisir bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi Indonesia.
Ancaman Nyata yang Perlu Penanganan Cepat
Fenomena penurunan tanah dan kenaikan permukaan air laut menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat.
Tanpa langkah penanganan yang cepat dan terintegrasi, risiko kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, hingga dampak sosial diperkirakan akan semakin besar. (saa/nsp)