news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Siswa SMK di Samarinda Meninggal Karena Sepatu Kekecilan, Menteri PPPA: Kasus Ini Menyayat Hati.
Sumber :
  • istimewa - istock photo

Siswa SMK di Samarinda Meninggal Karena Sepatu Kekecilan, Menteri PPPA: Kasus Ini Menyayat Hati

Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi, akhirnya angkat bicara perihal meninggalnya seorang siswa SMK N 4 Samarinda berinisial MRS (16). Mandala Rizky Saputra disebut
Selasa, 5 Mei 2026 - 17:50 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Arifah Choiri Fauzi, akhirnya angkat bicara perihal meninggalnya seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda berinisial MRS (16).

Untuk diketahui, Mandala Rizky Saputra (MRS) dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami infeksi di kakinya. 

Kaki MRS mengalami pembengkakan yang menyebabkan sakit menjalar hingga tubuh lalu meninggal dunia.

Terkait hal ini, Arifah menyoroti perihal  persoalan data sosial yang akhirnya berdampak pada akses bantuan pendidikan.

Menurutnya, negara harus hadir secara nyata dalam memastikan setiap anak mendapatkan haknya, termasuk hak atas pendidikan yang layak dan aman.

Arifah menyatakan, kasus ini perlu ditelusuri hingga ke akar, termasuk aspek administrasi kependudukan yang berpotensi membuat keluarga tidak terdaftar dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Kejadian ini menjadi perhatian serius dan karena itu perlu di evaluasi secara menyeluruh,” tegas Arifah, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, persoalan data tersebut bisa berdampak langsung pada akses program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP).

“Kemen PPPA akan berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga terkait guna memastikan ketepatan sasaran program perlindungan sosial bagi anak,” ujarnya.

Menurut Arifah, kasus ini menunjukkan masih ada anak yang harus berjuang dalam keterbatasan untuk mendapatkan hak pendidikan.

“Kasus ini sangat menyayat hati, masih ada anak-anak Indonesia yang harus berjuang dalam keterbatasan demi memperoleh hak pendidikannya. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, ananda MRS tetap menunjukkan semangat luar biasa untuk terus bersekolah. Semangat tersebut mencerminkan ketangguhan dalam mengejar cita-cita dengan berbagai keterbatasan meski akhirnya berakhir pilu,” tuturnya.

Ia menegaskan, selain penanganan kasus, penguatan sistem pencegahan juga penting, termasuk peran pemerintah daerah dan lingkungan dalam memastikan tidak ada anak yang terlewat dari perlindungan.

“Tentu kita semua berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Setiap anak Indonesia harus dapat mengakses pendidikan tanpa harus mengorbankan keselamatan dan kesehatannya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra (16), meninggal dunia dan kisahnya sempat viral di media sosial. Ia disebut menggunakan sepatu yang kekecilan hingga menyebabkan pembengkakan pada kakinya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, menjelaskan Mandala sebelumnya mengikuti praktik kerja lapangan pada 9 Februari hingga 20 Maret 2026 di Ramayana Robinson, Jalan M Yamin, Samarinda.

Setelah kembali ke sekolah, kondisi kesehatannya mulai menurun.

“Tanggal 30 Maret 2026 siswa sempat kembali mengikuti kegiatan pembelajaran, namun 1 April 2026 disarankan untuk beristirahat diantar pulang karena kondisi fisik yang menurun,” ujar Armin, Selasa (5/5).

Pada 2 April, Mandala tidak masuk sekolah dan orang tua mengirim izin sakit. Beberapa hari kemudian, tepatnya 8 April, ibu korban sempat menghubungi pihak sekolah melalui WhatsApp untuk meminta bantuan pinjaman uang.

“Pada tanggal 10 (April 2026), orangtua datang ke sekolah menyampaikan kondisi siswa terkait kesehatan dan penurunan kondisi dan menganggap itu adalah gangguan nonmedis dan sekolah membantu fasilitasi permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp1.100.000,” kata Armin.

Pihak sekolah juga melakukan kunjungan ke rumah pada 21 April. Saat itu, kondisi kaki korban disebut lemas dan bengkak, namun tidak ditemukan luka. Guru menyarankan agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Dalam pertemuan tersebut, orang tua menyampaikan adanya tunggakan biaya sebesar Rp2,4 juta. Sekolah kemudian membantu memfasilitasi pengurusan BPJS melalui bantuan pemerintah.

Kunjungan kedua dilakukan pada 23 April. Saat itu, kondisi korban sempat dilaporkan membaik, dan pihak sekolah berencana membelikan sepatu sesuai ukuran.

Namun sehari kemudian, 24 April, sekolah menerima kabar Mandala meninggal dunia. Pihak sekolah turut mendampingi proses pemulasaraan hingga pemakaman.

“Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pihak sekolah, keluarga, dan pihak terkait, kondisi kesehatan siswa semenjak diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing dan pembengkakan pada kaki,” ujar Armin.

Ia menambahkan, pihak sekolah telah melakukan pendampingan sejak awal kondisi korban menurun, termasuk memfasilitasi akses layanan kesehatan dan berkoordinasi dengan keluarga. (rpi/aag)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:35
02:50
04:42
00:59
01:38
05:04

Viral