- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
KDM Segera Atasi Kerusakan Tata Ruang Bogor, Bisa Kurangi Dampak ke Wilayah Hilir seperti Jakarta
Jakarta, tvOnenews.com- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM mengatakan kondisi Bogor telah rusak. Hal tersebut bisa berdampak pada wilayah hilir, seperti Jakarta.
Kondisi kerusakan Bogor menjadi perhatian khusus KDM karena dinilai juga berdampak pada wilayah sekitar, seperti memicu banjir dan longsor.
Dengan hal tersebut, Dedi Mulyadi ingin menyegerakan perbaikan tata ruang Bogor yang rusak dengan mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor agar keseimbangan lingkungan dapat dipulihkan.
“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” katanya, dikutip dari laman Jabarprov, Rabu (6/5).
Menurut Dedi Mulyadi, sudah banyak perubahan fungsi lahan secara masif di kawasan resapan air dan perbukitan. Ini menjadi faktor meningkatnya frekuensi bencana di Bogor dalam beberapa tahun terakhir.
Seperti kawasan Sukamakmur yang dinilai mengalami perubahan signifikan. Perbukitan yang banyak berubah menjadi perumahan.
- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Hal itu menurutnya, memperbesar risiko longsor dan meluapnya aliran sungai yang berdampak hingga ke daerah bawah.
“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” jelas KDM.
“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” tegasnya.
Kendatinya ia mengajak warganya dan seluruh pihak agar bisa memperbaiki tata ruang.
Dedi Mulyadi yakin dengan pemulihan tata ruang menjadi kunci untuk melindungi kawasan aglomerasi yang lebih luas, termasuk Jakarta, dari ancaman banjir berulang.
“Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” pesannya.
Di sisi lain, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim meninjau Kali Cibala di Bogor Utara (5/5/2026) untuk mencari solusi banjir akibat penyempitan aliran dan sampah.
Dalam temuannya di lapangan, ternyata ada penyempitan aliran akibat bangunan serta tumpukan sampah seperti plastik hingga furnitur.
Dengan begitu Pemkot Bogor merespons curah hujan tinggi hingga 120 milimeter dengan langkah penanganan prioritas di titik rawan.
“Hujan yang sekarang ini agak berbeda, curah hujannya berbeda, intensitasnya berbeda. Bukan hanya global warming, tapi ini sudah climate disaster, bukan hanya climate change lagi," katanya.
"Kita sebagai manusia yang berakhlak, berbudi luhur, punya akal dan budi, tentu harus introspeksi, bahwa ternyata perilaku kita juga berkontribusi terhadap perubahan alam ini,” ucap Dedie.(klw)