- Cepi Kurnia/tvOne
Dedi Mulyadi Gercep Bawa Siswi SMKN 2 Garut, Dengan Tegas KDM Ingatkan Oknum Guru BK Soal Ini
Bandung, tvOnnews.com - Dugaan tindakan pemotongan rambut secara paksa terhadap belasan siswi SMKN 2 Garut, memantik reaksi cepat dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Kang Dedi Mulyadi alias KDM bahkan turun tangan langsung, dengan menemui orang tua korban di tengah tekanan publik yang menguat di media sosial.
Kasus ini mencuat setelah video yang memperlihatkan sejumlah siswi memamerkan potongan rambut mereka hingga viral di media sosial.
Dalam narasi yang beredar, rambut para siswi SMKN 2 Garut tersebut diduga dipotong tanpa persetujuan oleh oknum guru bimbingan konseling (BK), sesaat setelah kegiatan olahraga.
- Tangkapan layar
Insiden tersebut diketahui terjadi pada Kamis (30/4/2026) di kawasan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Peristiwa ini langsung memantik perdebatan luas soal batasan disiplin di sekolah dan perlindungan hak siswa.
KDM pun memastikan dirinya telah menerima langsung orang tua para siswi, guna menyerap informasi secara utuh terkait kejadian tersebut.
"Siswa yang di Garut yang dipotong oleh guru (Bimbingan Konseling) BK-nya. Kemarin orangtua siswanya sudah ketemu dengan saya," kata Dedi saat ditemui di Kota Bandung, pada Rabu (6/5/2026).
Sebagai langkah awal, Pemprov Jabar memberikan penanganan cepat kepada para korban.
Mereka difasilitasi untuk merapikan kembali rambut di salon sebagai bentuk pemulihan awal.
"Anak-anaknya sudah merapikan rambutnya di salon, kemarin sudah saya kirim mereka ke salon untuk merapihkan rambutnya," ucapnya.
KDM juga mengungkapkan jumlah korban dalam kasus ini tidak sedikit, yakni mencapai 18 siswi.
"Seluruhnya ada 18 orang," tandasnya.
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam, membuka kembali diskursus lama tentang praktik pendisiplinan di lingkungan pendidikan yang dinilai melampaui batas, sekaligus menuntut adanya evaluasi serius terhadap peran dan pendekatan tenaga pendidik di sekolah.
Para siswi tersebut dipotong rambutnya oleh oknum guru, dengan dalih diwarnai, sementara mereka menggunakan hijab.
Pengakuan Guru BK
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
KDM pun mendatangkan oknum guru BK dan sejumlah siswi tersebut untuk dimintai keterangannya.
KDM penasaran apa yang membuat belasan siswi memilih untuk mewarnai rambutnya dan menggunakan make up berlebihan ke sekolah.
"Biar cantik, Pak," jawab salah satu siswi tersebut.
Adapun sebelumnya Dedi Mulyadi juga bertanya apa alasan guru BK memotong rambut mereka.
Mulanya KDM mengira anak-anak tersebut sering bolos. Namun, ternyata, guru BK itu punya alasan tersendiri.
Guru BK itu mengatakan belasan siswi itu tidak sering bolos dan tidak ada masalah apa-apa secara akademis. Hanya saja, menurut dia, penampilan siswi-siswi tersebut dinilai berlebihan.
"Yang meresahkan kami baru-baru ini tentang penampilan siswa. Mereka berkerudung cuma dalam hal badan, kosmetiknya berlebihan," katanya dilansir dari kanal YouTube Lembur Pakuan Channel, Kamis (7/5/2026).
"Keresahan kami tentang penampilan siswi. Anak-anak laki-laki merasa resah karena rambut siswi-siswinya berwarna. Ke luar gerbang dibuka kerudungnya padahal masih pakai seragam. Akumulasi dari sana dari sini," sambungnya.
Guru BK itu mengatakan dirinya melakukan hal itu karena menyayangi anak-anak didiknya.
Mendengar jawaban tersebut, KDM punya pandangan tersendiri. Menurutnya, guru BK sebaiknya mengingatkan dan melaporkan kepada orang tuanya terlebih dahulu ketimbang langsung mengambil tindakan seperti di video yang viral itu.
"Penampilan terlalu menor itu wajar. Kan tinggal diingatkan. Biasakan guru untuk memberikan surat kepada orang tuanya minimal, 'Anak ibu bernama ini berpenampilan terlalu menor. Mohon kepada ibu untuk segera datang ke sekolah membicarakannya'," kata KDM.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga turut menyoroti jurusan siswi-siswi SMK tersebut yang ternyata dari jurusan broadcasting yang dikenal ekspresif dan kreatif.
"Apakah mungkin bahwa karakter itu juga dipengaruhi oleh kejuruan? Misalnya anak ini rambutnya gondrong banget tapi memang dia pelukis. Di salah satu di daerah, ada yang ke sekolahnya pakai sendal jepit, bajunya bebas, anaknya gondrong, merdeka, tapi hasil anak-anaknya orang-orang kreatif," ucapnya.
"Kecuali anaknya dengan penampilan itu enggak masuk kelas, tidak berprestasi, baru itu yang saya maksud. Ini pendapat. Bisa jadi pendapat saya bertentangan," sambungnya.
Pada akhirnya, guru BK itu meminta maaf atas perilakunya. Di sisi lain, anak-anak sudah dibawa ke salon agar rambutnya rapi kembali. (cep/nsi/muu)