- ANTARA
26 Siswa Dirawat Usai Dugaan Keracunan MBG di Pulogebang, Dinkes Jakarta: Karena Pangsit Isi Tahu
Jakarta, tvOnenews.com — Dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa di Pulogebang, Jakarta Timur, masih menyisakan kekhawatiran.
Sebanyak 26 siswa dilaporkan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit setelah mengalami gejala diduga akibat mengonsumsi makanan bermasalah.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta kini terus melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan kesehatan pascakejadian tersebut.
“Dinkes bersama Disdik mendata dari orang tua yang melaporkan anaknya bergejala pada Jumat kemarin, ada 252 yang melaporkan, yang mengakses faskes sejumlah 188 dan yang dirawat hingga hari ini ada 26,” kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati saat dimintai konfirmasi, Minggu (10/5/2026).
Kasus ini langsung memicu perhatian serius lantaran jumlah siswa yang melapor mengalami gejala mencapai ratusan orang. Dari total laporan tersebut, 188 siswa tercatat sempat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Para siswa kini tersebar di sejumlah rumah sakit untuk menjalani observasi dan perawatan. Sebanyak 12 pasien dirawat di RS Citra Harapan Bekasi, tiga pasien di RS Ananda, dua pasien di RSI Pondok Kopi, dua pasien di RS Resti Mulya, empat pasien di RS Firdaus, dua pasien di RSI Sukapura, dan satu pasien di RS Pekerja.
Meski demikian, Ani menyebut mayoritas kondisi siswa tidak tergolong berat dan seluruh pasien masih dirawat di ruang rawat inap biasa.
“Gejalanya memang beragam, banyak juga yang tidak berat,” ujarnya.
Dugaan sementara mengarah pada salah satu menu makanan yang disajikan, yakni pangsit isi tahu. Makanan tersebut disebut memiliki rasa tidak normal sebelum dikonsumsi para siswa.
“Diduga dari pangsit isi tahu karena rasanya masam. Pemeriksaan laboratorium baru keluar paling cepat Selasa depan,” ucapnya.
Di tengah penyelidikan penyebab pasti keracunan, Dinkes DKI juga mulai melakukan evaluasi terhadap SPPG Pulogebang sebagai pihak penyedia makanan. Pemerintah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan hingga pelatihan ulang terhadap para penjamah makanan.
SPPG Pulogebang sendiri diketahui baru mulai beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan hingga kini masih dalam proses pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“IKL sudah dilakukan dan saat ini SPPG dalam proses perbaikan dan pelatihan bagi penjamah makanannya,” jelasnya. (agr)