news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi IHSG..
Sumber :
  • Antara

IHSG Masih Berdarah di Zona Merah, Deretan Saham Ini Ikut Tergelincir Saat Pasar Melemah

IHSG ditutup melemah 0,68 persen ke level 6.858,89. Sejumlah sektor dan saham unggulan ikut tergelincir ke zona merah.
Selasa, 12 Mei 2026 - 17:03 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali gagal keluar dari tekanan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Hingga penutupan pasar, IHSG ditutup melemah 46,72 poin atau turun 0,68 persen ke level 6.858,89.

Pelemahan indeks terjadi di tengah dominasi saham-saham yang masuk zona merah. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 463 saham turun, hanya 207 saham menguat, sementara 151 saham stagnan.

Tekanan jual yang masih tinggi membuat mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia ikut terkoreksi mengikuti arah pelemahan IHSG.

Mayoritas Sektor Saham Ikut Terjun

Dari total 11 indeks sektoral, hanya empat sektor yang berhasil bertahan di zona hijau. Sisanya, tujuh sektor mengalami pelemahan cukup dalam.

Sektor kesehatan menjadi yang paling terpukul setelah anjlok 3,51 persen. Tekanan juga terjadi pada sektor perindustrian yang turun 3,20 persen serta sektor infrastruktur yang melemah 1,50 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham-saham tertentu, tetapi menyebar ke berbagai sektor utama di Bursa Efek Indonesia.

Sementara itu, sektor yang masih mampu menguat dipimpin oleh sektor barang baku dengan kenaikan 1,85 persen, disusul sektor transportasi yang naik 1,59 persen dan sektor keuangan yang menguat tipis 0,31 persen.

Grafik IHSG Tunjukkan Tren Pelemahan Belum Berakhir

Berdasarkan pergerakan grafik historis IHSG dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap pasar saham Indonesia terlihat masih cukup kuat.

Grafik menunjukkan IHSG sempat bergerak di atas level 7.600 pada pertengahan April 2026. Namun setelah itu indeks terus mengalami penurunan bertahap hingga akhirnya turun ke kisaran 6.800 pada Mei 2026.

Penurunan paling tajam terlihat terjadi sejak akhir April hingga awal Mei, ketika IHSG kehilangan ratusan poin dalam waktu singkat. Meskipun sempat mengalami rebound kecil pada 7 Mei, penguatan tersebut tidak bertahan lama sebelum kembali melemah.

Hingga penutupan terbaru, grafik menunjukkan IHSG kembali turun mendekati level psikologis 6.900 dan masih bergerak di area terendah dalam beberapa minggu terakhir.

Kondisi ini memperlihatkan sentimen pasar masih cenderung negatif, terutama di tengah tekanan global, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing.

Saham-Saham LQ45 Ikut Tertekan

Tekanan di pasar juga terlihat dari pergerakan saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45.

Beberapa saham bahkan mengalami penurunan cukup dalam dan masuk daftar top losers perdagangan hari ini.

Berikut daftar top losers LQ45:

  1. CUAN turun 8,25 persen

  2. AMRT melemah 4,71 persen

  3. JPFA turun 3,56 persen

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk menjadi yang paling tertekan setelah anjlok lebih dari 8 persen dalam sehari.

Sementara itu, saham ritel dan consumer seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk juga ikut melemah cukup dalam di tengah tekanan pasar.

Beberapa Saham Masih Bertahan di Zona Hijau

Meski mayoritas saham terkoreksi, sejumlah emiten besar masih mampu mencatat penguatan dan masuk daftar top gainers LQ45.

Berikut saham dengan kenaikan tertinggi:

  1. BRPT naik 14,86 persen

  2. ISAT menguat 7,80 persen

  3. ADRO naik 6,12 persen

Saham PT Barito Pacific Tbk menjadi bintang perdagangan hari ini setelah melesat hampir 15 persen.

Penguatan juga terjadi pada saham telekomunikasi PT Indosat Tbk serta saham energi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk.

Nilai Transaksi Tembus Rp16 Triliun

Di tengah tingginya volatilitas pasar, aktivitas perdagangan saham tetap ramai. Total volume perdagangan mencapai 32,81 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp16,10 triliun.

Besarnya transaksi menunjukkan investor masih aktif melakukan aksi beli dan jual di tengah kondisi pasar yang belum stabil.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik, mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, hingga arah kebijakan ekonomi yang memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia. (nsp)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:10
01:22
05:11
01:38
03:33
22:38

Viral