Rupiah Tembus Rp17.500, Pasar Dibayangi Rebalancing MSCI
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan tajam hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International atau Msci.
Pengumuman hasil penyesuaian indeks tersebut dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026 waktu Eropa atau 13 Mei dini hari waktu Indonesia Barat.
Pasar saat ini berada dalam fase yang disebut sebagai rebalancing anxiety di mana investor global mulai menyesuaikan portofolio mereka mengikuti perubahan komposisi indeks MSCI.
Kekhawatiran meningkat setelah muncul proyeksi bahwa bobot Indonesia dalam indeks MSCI berpotensi turun dari sekitar 0,72 persen menjadi 0,56 persen.
Penurunan tersebut diperkirakan dapat memicu arus keluar modal asing atau capital outflow dalam jumlah besar dari pasar saham Indonesia.
MSCI juga disebut menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham dan tingkat free float di pasar modal Indonesia. Faktor tersebut dinilai meningkatkan kehati-hatian investor asing terhadap aset domestik.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia juga berpotensi mengalami perubahan klasifikasi, mulai dari penurunan ke indeks small cap hingga kemungkinan keluar dari indeks global standard MSCI.
Kondisi tersebut memicu aksi jual bersih investor asing dan meningkatkan volatilitas di pasar saham domestik.
Selain faktor MSCI, pelemahan rupiah turut dipengaruhi situasi global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memberi tekanan tambahan terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Di dalam negeri, kebutuhan valuta asing juga meningkat seiring siklus pembayaran dividen emiten kepada investor asing. Kondisi tersebut memperbesar permintaan dolar AS di pasar domestik.
Sementara itu, penguatan dolar Amerika secara global masih berlanjut akibat kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Situasi ini membuat dolar tetap menjadi aset utama investor global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Secara keseluruhan, rupiah tercatat menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terbesar di Asia sepanjang tahun 2026 dengan depresiasi sekitar 4,67 persen sejak awal tahun hingga 12 Mei 2026.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia disebut telah melakukan intervensi agresif melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal masuk dan menjaga likuiditas pasar domestik.