- Instagram @smansaptk.informasi
Sosok Indang Maryati, Kepala SMAN 1 Pontianak yang Tegas Tolak Ikut Final Ulang Cerdas Cermat MPR, Aktif Jadi Pembicara Forum Anak dan Pendidikan
"Sekolah-sekolah dan universitas harus mengintegrasikan kurikulum yang mempromosikan toleransi dan dialog antaragama," ujarnya.
Saat itu, Indang menyampaikan materi di hadapan para pelajar SMA dan SMK dari berbagai sekolah di Kota Pontianak.
Kontroversi Lomba Cerdas Cermat MPR
Kontroversi dalam final Cerdas Cermat MPR bermula ketika tim dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), namun dinyatakan keliru oleh juri. Tidak lama berselang, jawaban serupa yang disampaikan peserta dari SMAN 1 Sambas justru dianggap benar.
Peserta SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, sempat menyampaikan protes di arena lomba. Akan tetapi, keberatan tersebut tidak diterima dengan alasan keputusan juri bersifat final.
Meski memilih tidak ikut dalam pelaksanaan ulang, Indang Maryati menegaskan sekolahnya tetap memberikan dukungan kepada SMAN 1 Sambas untuk tampil di tingkat nasional. Ia menyebut sikap tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil kompetisi.
"SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta menyammpaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada ajang LCC 4 Pilar tingkat nasional," katanya.
Ia juga memastikan SMAN 1 Pontianak tetap akan berpartisipasi pada ajang serupa tahun depan walaupun kompetisi tahun ini diwarnai polemik.
Sikap yang diambil pihak sekolah mendapat banyak respons positif dari masyarakat. Sejumlah warganet menilai keputusan tersebut menunjukkan semangat sportivitas dan kedewasaan dalam menyikapi persaingan.
Di sisi lain, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, sebelumnya telah mengumumkan bahwa babak final lomba cerdas cermat Kalimantan Barat akan digelar ulang setelah dilakukan evaluasi internal.
"Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang dalam waktu yang segera akan diputuskan," ujar Muzani dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia menegaskan proses penilaian nantinya tidak lagi melibatkan juri sebelumnya. Penjurian, kata dia, akan dilakukan oleh pihak independen dan diawasi langsung pimpinan MPR dari awal hingga akhir pertandingan. (nba)