- ANTARA
Terungkap, Kronologi Siswa SD di Tulungagung Terpapar Kelompok Teroris dari Game Online
"Ternyata dia senang gim daring, kami salurkan lewat organisasi e-sport. Kami ikutkan setiap kali ada turnamen," ungkap Dwi.
Dwi menjelaskan, sebenarnya siswa SD tersebut ingin mendapatkan validasi bahwa dirinya hebat dalam bermain gim.
Namun, karena salah pergaulan, akhirnya ia masuk ke dalam jaringan terorisme.
"Lingkungan sekitarnya tidak tahu apa yang dikerjakan anak ini,"
"Dia terpapar setelah berkomunikasi lewat gim seperti Mobile Legend, FF (Free Fire), dan Roblox," jelanya.
Kemudian, kata dia, orang tua harus selalu waspada dan mengawasi setiap kegiatan anaknya.
Terlebih, saat ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengeluarkan peraturan tentang pembatasan media sosial bagi anak-anak.
Namun, hal tersebut bisa saja percuma apabila orang tua justru memberikan akses kepada anaknya.
"Sekarang Kementerian Komunikasi dan Digital melakukan pembatasan anak-anak tidak bisa main media sosial. Tapi percuma jika orang tua memberi akses ke akunnya," pungkas Dwi. (aag)