- Istimewa
Australia Sampai Telepon Amran, Indonesia Dipuji karena Selamatkan Pasokan Pupuk di Tengah Krisis Global
Namun ke depan, volume ekspor tersebut ditargetkan meningkat hingga 500.000 ton dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp7 triliun.
“Ini mencetak sejarah, karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana kita mengekspor ke Australia sesuai pembicaraan Perdana Menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, tapi akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, nilainya kurang lebih Rp7 triliun,” jelas Amran.
Pemerintah Pastikan Kebutuhan Petani Dalam Negeri Aman
Meski melakukan ekspor dalam jumlah besar, pemerintah memastikan kebutuhan pupuk petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.
Mentan Amran menegaskan ekspor dilakukan karena produksi pupuk nasional saat ini berada dalam kondisi surplus sehingga stok domestik tetap aman.
Saat ini produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri berada di kisaran 6,3 juta ton.
Dengan demikian, Indonesia masih memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pasar ekspor sekaligus mendukung diplomasi pangan nasional.
Amran menegaskan penguatan industri pupuk menjadi salah satu fondasi utama dalam mempercepat program swasembada pangan nasional.
Menurutnya, ketersediaan pupuk yang cukup, harga yang terjangkau, dan distribusi yang cepat menjadi faktor penting dalam meningkatkan produksi pertanian nasional.
Indonesia Makin Strategis di Tengah Geopolitik Global
Ekspor pupuk ke Australia juga dinilai menjadi penanda baru posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Di saat banyak negara menghadapi gangguan rantai pasok dan krisis bahan baku, Indonesia justru dinilai mampu tampil sebagai mitra strategis dalam menjaga ketahanan pangan kawasan.
Kerja sama tersebut sekaligus memperlihatkan meningkatnya kepercayaan negara lain terhadap kapasitas industri pupuk nasional Indonesia.
Pemerintah berharap penguatan ekspor pupuk tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi pangan global di tengah ketidakpastian dunia. (nsp)