- Antara
Rupiah Kembali Terkapar usai BI Rate Naik 5,25 Persen, Pasar Mulai Cemas Efek Suku Bunga
Sementara itu, dolar Taiwan naik 0,16 persen dan yuan China menguat tipis 0,009 persen.
Dolar AS Masih Jadi Tekanan Utama
Di pasar global, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia tercatat menguat 0,07 persen ke level 99,16.
Padahal sehari sebelumnya indeks dolar sempat melemah 0,24 persen.
Pergerakan indeks dolar dalam sepekan terakhir terlihat fluktuatif seiring pasar terus mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Risalah rapat The Fed menunjukkan sebagian besar pejabat bank sentral AS mulai memperingatkan kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi terus bertahan di atas target 2 persen.
Kondisi tersebut membuat pasar kembali khawatir terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat di Amerika Serikat.
Pasar Waspadai Sikap Hawkish The Fed
Selain memberi sinyal penghentian pelonggaran moneter, sejumlah pejabat The Fed juga mulai membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Sikap hawkish tersebut menjadi salah satu faktor yang terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Penguatan dolar AS biasanya membuat investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang menuju aset-aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman.
Di tengah kondisi tersebut, langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate dipandang sebagai upaya menjaga daya tarik aset domestik sekaligus menahan arus keluar modal asing.
Meski begitu, pelaku pasar masih akan terus mencermati perkembangan global, terutama arah kebijakan The Fed dan pergerakan harga energi dunia yang masih menjadi faktor utama penggerak pasar keuangan internasional. (nsp)