- Instagram/@w.o.d.d
ITB Buka Suara soal Prihantini, Tegaskan Dugaan Riset Palsu di Denmark Tak Berkaitan dengan Aktivitas Akademik Kampus
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama warga negara Indonesia dalam konferensi ilmiah internasional di Denmark terus menjadi sorotan publik. Institut Teknologi Bandung (ITB) akhirnya buka suara terkait nama Prihantini yang disebut terlibat dalam dugaan manipulasi riset pada ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen.
Melalui keterangan resmi yang dirilis Kamis (28/5/2026), ITB menegaskan bahwa Prihantini memang merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 yang telah lulus pada 2022. Namun kampus memastikan materi yang dipresentasikan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas akademik selama menempuh pendidikan di ITB.
“Saudari Prihantini merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 dan telah lulus pada tahun 2022,” tulis ITB dalam pernyataan resminya.
ITB Tegaskan Riset di ISPPD Tidak Berkaitan dengan Tesis
Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, SSi, MSi, PhD, menjelaskan bahwa penelitian yang dipresentasikan Prihantini dalam forum ilmiah internasional tersebut bukan bagian dari tesis maupun riset akademik di lingkungan kampus.
ITB juga membeberkan judul tesis Prihantini saat menempuh studi magister, yakni “Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring”.
Menurut kampus, topik tersebut sama sekali berbeda dengan penelitian yang dipresentasikan dalam ISPPD 2026 yang banyak membahas pneumonia, kecerdasan buatan, transcriptomic, hingga machine learning di bidang kesehatan.
“Tindakan Saudari Prihantini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” tegas pihak kampus.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa ITB tidak memiliki keterkaitan terhadap materi penelitian yang kini menuai kontroversi di konferensi internasional tersebut.
ITB Tegaskan Komitmen Jaga Integritas Akademik
Di tengah ramainya pembahasan publik terkait dugaan manipulasi data penelitian, ITB menyatakan tetap berkomitmen memperkuat budaya akademik yang menjunjung integritas dan tanggung jawab ilmiah.
Kampus menegaskan pentingnya penelitian yang dilakukan secara jujur, transparan, dan sesuai etika akademik.
Kasus ini pun memicu perhatian luas karena konferensi ISPPD merupakan forum ilmiah internasional bergengsi yang diikuti peneliti dari berbagai negara.
LPDP Ikut Buka Suara soal Status Prihantini
Selain ITB, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga memberikan tanggapan terkait nama Prihantini yang disebut dalam dugaan pelanggaran integritas akademik tersebut.
Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP, M Lukmanul Hakim, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman dan verifikasi terhadap informasi yang beredar di media sosial maupun publik.
Berdasarkan pengecekan awal data internal, Prihantini tercatat sebagai alumni penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studi pada 2022.
“LPDP saat ini masih perlu mendalami dan menelaah informasi yang beredar, termasuk melakukan verifikasi terhadap data dan fakta yang relevan,” ujar Lukmanul.
LPDP juga menegaskan tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran dalam aktivitas ilmiah dan akademik.
Lembaga tersebut akan melakukan penelaahan lebih lanjut terkait kepatuhan terhadap kontrak beasiswa, termasuk berkoordinasi dengan perguruan tinggi dan pihak terkait lainnya.
“Hasil dari proses pendalaman ini akan menjadi dasar bagi LPDP dalam menentukan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.
Dugaan Manipulasi Data dan Identitas Peneliti
Kasus ini mencuat setelah seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi S3 di Oxford University, Wa Ode Dwi Daningrat, mengungkap dugaan manipulasi data dan identitas peneliti dalam konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen.
Melalui unggahan di media sosial, Dwi membeberkan adanya sejumlah penelitian yang dipresentasikan dengan nama Prihantini bersama beberapa peneliti lain.
Dalam laman ISPPD, Prihantini disebut mengirimkan empat judul penelitian, di antaranya:
Daftar Judul Penelitian yang Disorot
-
Deep Reinforcement Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia
-
Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes
-
Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia
-
Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae
Dalam konferensi tersebut, Prihantini dan Rifaldy Fajar disebut menggunakan nama institusi AI-Biomedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation Jakarta. Sementara satu nama lain, Rini Winarti, menggunakan identitas Departemen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta.
Pemateri Disebut Berganti Identitas saat Presentasi
Sorotan publik semakin besar setelah muncul dugaan penggunaan identitas berbeda saat sesi presentasi berlangsung.
Menurut penelusuran Wa Ode Dwi Daningrat, seorang perempuan tampil membawakan materi menggunakan nama “Riana Dwi Kurniawati” pada satu sesi presentasi.
Namun sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan yang sama disebut kembali tampil di sesi berbeda dengan identitas “Dimas Fajar Prasetyo”.
Perempuan tersebut bahkan disebut memperkenalkan diri menggunakan nama “Dimas” dalam sesi presentasi itu.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, sosok tersebut diduga merupakan Prihantini. Meski demikian, nama Prihantini disebut tidak tercantum dalam daftar penulis pada penelitian yang dipresentasikan menggunakan identitas berbeda tersebut.
Kasus dugaan riset palsu ini kini terus menjadi perhatian karena menyangkut integritas akademik Indonesia di forum ilmiah internasional. (nsp)