- istimewa
Gelar Ritual Yadnya Kasada di Desa Negororejo, Bromo Ditutup 30 Mei-2 Juni
Jakarta, tvOnenews.com - Rangkaian sakral Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 Masehi dimulai dengan menggelar ritual Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kabupaten Probolinggo, Jumat (29/5).
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengumumkan penutupan sementara kawasan wisata Gunung Bromo pada 30 Mei hingga 2 Juni 2026 guna menghormati pelaksanaan ritual Yadnya Kasada oleh masyarakat Suku Tengger.
"Ritual Mendak Tirta merupakan tahapan penting dalam rangkaian Yadnya Kasada, karena menjadi simbol penyucian diri, alam semesta dan sarana peribadatan," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto dalam keterangannya di kabupaten setempat, Sabtu (30/5/2026).
Puluhan warga Tengger berjalan kaki menuju sumber mata air suci di kawasan Madakaripura untuk mengambil tirta atau air suci yang akan digunakan dalam prosesi penyucian perlengkapan ibadah menjelang puncak Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten, Lautan Pasir Gunung Bromo.
Prosesi berlangsung khidmat dengan diawali doa bersama dan persembahan sesaji hasil bumi. Ritual dipimpin oleh pemangku Desa Ngadas Slamet yang memimpin pembacaan mantra suci sebelum pengambilan air dilakukan oleh para pandita dan tokoh adat Tengger.
"Air suci yang diambil dari empat sumber mata air sakral dikumpulkan menjadi satu dan digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum puncak pelaksanaan Yadnya Kasada," katanya.
Menurut Bambang, selain Madakaripura terdapat tiga sumber mata air suci lainnya yang menjadi lokasi pengambilan tirta, yakni Sumber Watu Klosot dan Ranu Pane di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang serta mata air Widodaren di kawasan Gunung Bromo.
“Pengambilan tirta dilakukan serentak oleh masyarakat Tengger dari tiga wilayah. Warga Probolinggo menuju Madakaripura, warga Kabupaten Pasuruan mengambil tirta di Widodaren dan warga Kabupaten Lumajang di kawasan Ranu Pane,” katanya.
Ia menjelaskan Madakaripura dipilih sebagai lokasi ritual, karena memiliki nilai historis yang kuat bagi masyarakat Tengger, karena kawasan tersebut diyakini sebagai tempat moksa Patih Gajah Mada setelah menerima tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk sebagaimana tercatat dalam Kitab Negarakertagama.