- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Purbaya Pasang Badan Saat Rupiah Tertekan, Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh dan Tumbuh Kuat
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi nasional.
Pemerintah bahkan mengklaim telah mengantisipasi risiko depresiasi rupiah dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat kekhawatiran pasar terhadap pelemahan mata uang domestik masih membayangi prospek ekonomi nasional. Namun, pemerintah menilai fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat sehingga gejolak nilai tukar tidak akan menghambat laju pertumbuhan.
“Secara teori, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan? Saat ini saya fokus memastikan bahwa ekonomi domestik akan terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, maupun jangka panjang,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Minggu (31/5/2026).
Purbaya menegaskan perhatian utama pemerintah saat ini bukan sekadar menjaga pergerakan kurs, melainkan memastikan mesin ekonomi domestik tetap bergerak. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang pada akhirnya mengembalikan kekuatan rupiah.
Ia meyakini stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional akan menjadi magnet bagi investor global, baik investor langsung maupun investor portofolio, untuk terus menanamkan modal di Indonesia.
Menurut Purbaya, optimisme tersebut didukung oleh capaian ekonomi Indonesia yang masih mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan banyak negara besar lainnya. Bahkan, Indonesia disebut berada di posisi kedua negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di kelompok G20 setelah India.
“Jadi, prospek ekonomi kita kuat, dan pelemahan rupiah belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi kita,” katanya.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga melihat adanya peluang perbaikan kondisi eksternal yang dapat membantu menurunkan tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah perkembangan hubungan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi meredakan ketidakpastian pasar internasional.
Purbaya menyoroti upaya Amerika Serikat untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Iran sebagai salah satu faktor yang dapat memperbaiki sentimen ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang.
“Saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang,” tuturnya.
Dengan membaiknya situasi global, pemerintah berharap tekanan terhadap nilai tukar rupiah ikut mereda sehingga memberikan ruang yang lebih besar bagi penguatan ekonomi domestik.
“Artinya, gangguan-gangguan yang sampai batas tertentu menyebabkan pelemahan rupiah juga akan hilang. Itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan rupiah yang lebih kuat pula,” sambung Purbaya.
Fokus utama saat ini tetap diarahkan pada menjaga momentum pertumbuhan, memperkuat investasi, serta memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih berlangsung. (agr)