- tvOne - aris wiyanto
Rupiah Anjlok, Indonesia Diprediksi Bakal Diserbu Turis Mancanegara
“Nah, bukan saja dari ASEAN ya, tetapi dari Eropa, dari Amerika pun juga yang mata uangnya Euro-nya juga di atas Rp20.000 ya, Rp22.000, kemudian Poundsterling-nya sudah Rp25.000, ya mereka berdatangan,” ujarnya.
Ibrahim mengakui pelemahan rupiah tetap membawa konsekuensi negatif terhadap perekonomian nasional, terutama melalui penurunan daya beli masyarakat. Namun, ia melihat sektor pariwisata menjadi pengecualian yang justru menikmati momentum pertumbuhan.
“Nah, ini yang cukup menarik. Jadi ada segi positifnya. Memang negatifnya kondisi geopolitik ini membuat kondisi ekonomi terutama daya beli masyarakat kita kan menurun, tetapi di sisi lain pariwisata ini terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” katanya.
“Dan ini ya membuktikan bahwa di saat geopolitik memanas, rupiah melemah, tapi ini ada manfaatnya juga bagi pariwisata,” tambahnya.
Bahkan, Ibrahim memperkirakan sektor pariwisata berpotensi mengalami lonjakan kunjungan yang sangat besar dalam dua tahun terakhir.
“Dan kemungkinan besar pariwisata di Indonesia dari tahun 2025 ke tahun 2026 lonjakannya mungkin tiga kali lipat,” ujarnya.
Pandangan serupa sebelumnya disampaikan Kementerian Pariwisata. Di saat banyak pihak mengkhawatirkan pelemahan rupiah, pemerintah melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata Indonesia di pasar global.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa pelemahan rupiah justru membuat wisatawan asing mendapatkan nilai lebih saat berlibur ke Indonesia.
“Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap,” kata Ayu.
Beberapa destinasi wisata yang menjadi favorit turis asing antara lain Bali, Lombok, Labuan Bajo, Anyer, Pulau Seribu, hingga Bromo.(agr/raa)