- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Fenomena Warteg Sepi, Menkeu Purbaya Janji Turun Tangan: Jika Benar Saya Tambah Stimulus
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengaku, terkejut dengan laporan menurunnya daya beli masyarakat yang mulai terlihat di sejumlah warung tegal (warteg).
Di tengah berbagai indikator ekonomi yang masih menunjukkan pertumbuhan kuat, muncul fenomena konsumen yang membeli lauk dengan harga murah dan mengurangi pembelian menu berharga tinggi.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena bertolak belakang dengan data agregat yang selama ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh positif.
“Nanti saya cek lagi, tapi harus hati-hati. Saya baru dengar sekarang tuh ada fenomena lesunya daya beli di warteg,” kata Purbaya, saat Konferensi Pers APBN KITA di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026).
Purbaya mengatakan pemerintah tidak akan terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan temuan di beberapa lokasi. Namun, ia memastikan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apakah perubahan pola konsumsi tersebut benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang lebih luas.
“Saya sih akan investigasi, betul enggak kondisinya seperti itu. Tapi harus hati-hati. Karena kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tuh tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya masih kencang,” lanjutnya.
Konsumen disebut mulai menghindari lauk yang relatif mahal seperti ayam goreng, rendang sapi, semur sapi, cumi hitam, hingga udang. Sebaliknya, pembeli lebih banyak memilih menu murah seperti tempe, tahu, telur, gorengan, dan memperbanyak porsi sayuran.
Bahkan, transaksi makanan di kisaran Rp10.000 kini semakin dominan, sementara pembelian di atas Rp20.000 mulai jarang ditemukan. Kondisi itu disebut dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan hidup lainnya yang memaksa masyarakat melakukan penyesuaian pengeluaran.
Meski demikian, Purbaya menilai kondisi tersebut belum cukup untuk dijadikan kesimpulan bahwa daya beli masyarakat secara keseluruhan sedang melemah. Ia mengaku masih melihat aktivitas konsumsi yang tinggi di berbagai daerah.
“Tapi kalau kita jalan ke kampung-kampung, semuanya rame loh. Kemarin saya makan (ayam) cabai hijau masih rame,” ujar Purbaya.
Menurut dia, pengamatan terhadap satu atau dua kasus tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah akan menguji laporan tersebut dengan data yang lebih komprehensif sebelum mengambil kesimpulan.
“Jadi hati-hati menerjemahkan data. Saya bukannya anti, tetap saya akan periksa. Tapi jangan sampai simpulkan satu atau dua di tempat, terus artinya semuanya seperti itu. Belum tentu. Saya pernah dikritik sama profesor-profesor saya, ketika melakukan hal seperti itu,” tegasnya.
Meski masih meragukan apakah fenomena tersebut bersifat luas, Purbaya membuka kemungkinan pemerintah menyiapkan respons kebijakan apabila hasil investigasi membuktikan terjadi penurunan daya beli masyarakat yang signifikan.
“Kalau memang benar ada fenomena itu, di warteg ada perubahan konsumsi, saya akan tambah lagi stimulus kepada perekonomian, itu akan memberi daya beli tambahan ke masyarakat,” terang Purbaya. (agr/aag)