- Antara
PKS Sebut Kenaikan Harga Pertamax Bikin Daya Beli Kelas Menengah Tertekan
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Handi Risza, menyebut naiknya harga BBM jenis Pertamax akan membuat daya beli kelas menengah menjadi tertekan.
Meskipun dampak kenaikan terhadap inflasi terbatas, tetapi dia menilai kondisi ini tetap menimbulkan inflasi tidak langsung lewat kenaikan biaya logistik, jasa kurir, hingga transportasi.
“Dampaknya mungkin tidak sampai menciptakan lonjakan inflasi nasional yang ekstrem karena BBM subsidi tidak mengalami penyesuaian,” kata Handi kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, dampak dari kenaikan harga Pertamax akan mulai dirasakan pada Juni dan Juli 2026. Daya beli masyarakat kelas menengah akan mengalami tekanan.
“Pengguna Pertamax umumnya berasal dari kelompok kelas menengah yang saat ini justru menjadi pihak yang paling terpukul oleh kondisi ekonomi,” ujar Handi.
Handi mengatakan pelemahan daya beli berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Karena itu, setiap tekanan terhadap daya beli berpotensi mengurangi laju pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek,” bebernya.
Sebagai informasi, BBM non subsidi yang mengalami kenaikan harga ialah Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (setara RON 95).
Harga terbaru mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Adapun rincian kenaikan harga untuk Pertamax menjadi Rp16.250/liter, dan Pertamax Green menjadi Rp17.000/liter.
Pertamax mengalami kenaikan harga sebesar Rp3.950/liter dari sebelumnya Rp12.300. Sedangkan, Pertamax Green naik Rp4.100/liter dari sebelumnya seharga Rp12.900. (saa/muu)