Kabut Asap Tebal Dengan Bau Menyengat Selimuti Kota Sampit
Kotawaringin Timur, tvOnenews.com - Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla) yang semakin meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali menyelimuti Kota Sampit dengan Kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas warga.
Kabut asap terlihat menyelimuti hampir seluruh wilayah kota sejak malam hari dan semakin pekat menjelang subuh karena bercampur dengan embun. Meski mulai menipis saat siang, aroma asap yang menyengat masih tercium.
Sejumlah warga mengeluhkan dampak kabut asap, mulai dari mata perih, dada sesak, hingga sakit kepala saat beraktivitas di luar ruangan. Kondisi tersebut juga mengurangi jarak pandang pengendara sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, pada Selasa terpantau 62 titik panas (hotspot) dan 9 titik api yang berhasil ditangani.
Namun, upaya pemadaman belum maksimal karena keterbatasan personel, minimnya sumber air, serta kelelahan petugas.
Kontributor tvOne di Sampit, Didi Syahwani, melaporkan tim gabungan sejak pagi telah dikerahkan menuju sejumlah lokasi kebakaran.
Namun, luasnya area yang terbakar membuat jumlah personel tidak sebanding dengan banyaknya titik api yang harus ditangani.
Bahkan di beberapa lokasi, warga terpaksa memadamkan api secara mandiri karena petugas tengah menangani kebakaran di titik lain.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD Kalimantan Tengah mengerahkan satu unit helikopter water bombing guna memadamkan kebakaran di wilayah Camba, Kecamatan Kota Besi.
Kawasan tersebut dinilai sulit dijangkau melalui jalur darat, sementara luas lahan yang terbakar terus bertambah dan diduga menjadi salah satu penyebab kabut asap menyelimuti Kota Sampit.
Di tengah kondisi tersebut, aparat penegak hukum juga menindak pelaku pembakaran lahan. Seorang warga ditetapkan sebagai tersangka setelah tertangkap tangan membakar lahan miliknya.
Api yang semula kecil dilaporkan merambat hingga menghanguskan lahan seluas lebih dari satu hektare.
Pemerintah daerah dan aparat sebelumnya telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau guna mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.