- istimewa - antaranews
Indonesia Target Mandiri Sulfur 5,3 Juta Ton, MIND ID Olah Limbah Tembaga Emas untuk Industri Nikel dan Baterai
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut telah berdampak nyata pada harga. Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mencatat lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
"Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja," ujar Arif dalam forum Indonesia Critical Minerals di Jakarta awal Juni 2026.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah pelaku industri hilirisasi nikel telah mulai melakukan diversifikasi sumber impor ke Kanada, Amerika Serikat, dan Korea Selatan sebagai langkah mitigasi jangka pendek.
Di luar sulfur, MIND ID juga memetakan tantangan lain dalam rantai pasok baterai nasional. Budi menyebut Indonesia masih harus mengimpor litium untuk kebutuhan industri baterai berbasis material tersebut.
"Ini dengan catatan kalau kita punya materialnya ya. Tapi ada juga yang tidak punya, misalnya tadi baterai yang basisnya litium, litium-nya masih harus impor," kata Budi.
Oleh karena itu, MIND ID mendorong percepatan riset dan pengembangan teknologi baterai berbasis nikel sebagai keunggulan komparatif Indonesia. "Kita mestinya karena kita punya nikel, kita dorong riset terhadap bagaimana baterai yang basisnya itu nikel harus lebih efisien dibandingkan yang litium," ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan upaya penguatan rantai pasok domestik seperti yang sedang dijalankan MIND ID merupakan langkah yang tepat dalam logika hilirisasi jangka panjang.
"Jika kita hanya mengandalkan ekstraksi atau pengolahan pada tahap awal, maka ketika mineral itu habis, manfaat ekonominya juga akan berhenti," ujar Faisal.
Menurut Faisal, semakin panjang rantai nilai yang dikuasai Indonesia, semakin besar manfaat ekonomi yang dapat dipertahankan.
"Mungkin bahan bakunya sudah tidak tersedia sebanyak sebelumnya, tetapi sumber daya manusia yang telah memiliki kemampuan mengembangkan produk-produk turunannya tetap kita miliki," katanya.
Faisal menambahkan bahwa konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci agar investasi hilirisasi dapat berjalan dalam jangka panjang. Keberhasilan hilirisasi, menurutnya, tidak hanya diukur dari pembangunan smelter, tetapi dari kemampuan menciptakan ekosistem industri dan memperkuat rantai pasok domestik secara menyeluruh.