- ANTARA
Airlangga Ajak Aliansi RI-Belarus Bangun Truk Listrik hingga Mesin Pertanian Modern
Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah mendorong kemitraan strategis Indonesia dan Belarus untuk memperkuat industri manufaktur berbasis teknologi, mulai dari kendaraan listrik, alat berat pertambangan, mesin pertanian modern, hingga pengembangan energi hijau.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia saat ini tengah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Menurutnya, kemampuan manufaktur Belarus dapat dipadukan dengan keunggulan Indonesia di sektor baterai untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan ramah lingkungan.
“Indonesia juga tengah mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV). Jika mesin dan peralatan dari Belarus dikombinasikan dengan sistem baterai EV Indonesia, saya rasa kita dapat mengirimkan produk yang lebih ramah lingkungan ke pasar, yang mana hal ini juga sangat diperlukan bagi Indonesia,” kata Airlangga dalam Forum Bisnis Indonesia-Belarus di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).
Ia menilai kebutuhan alat berat di Indonesia sangat besar seiring tingginya produksi komoditas strategis nasional.
Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan armada angkut dalam jumlah besar untuk menopang aktivitas pertambangan.
“Sebagai contoh, Indonesia memproduksi sekitar 800 juta ton batu bara setiap tahunnya. Kita bisa hitung berapa banyak dump truck yang dibutuhkan untuk 800 juta ton batu bara tersebut,” ujarnya.
Selain sektor pertambangan, Airlangga menyoroti potensi kerja sama di bidang pertanian.
Dengan produksi crude palm oil (CPO) yang mencapai sekitar 50 juta ton per tahun, Indonesia membutuhkan modernisasi sektor agribisnis melalui penggunaan mesin dan teknologi yang lebih maju.
“Kita juga memproduksi sekitar 50 juta ton CPO (minyak sawit mentah). Itu juga merupakan hal yang kita butuhkan untuk sektor pertanian. Kita memerlukan pertanian modern yang menggunakan permesinan. Teknologi terbaru dari Minsk dalam bidang permesinan akan meningkatkan hasil panen dan komoditas pertanian di sektor agribisnis Indonesia,” katanya.
Airlangga menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya sebatas perdagangan produk, tetapi juga diarahkan pada pembangunan industri dalam negeri melalui kolaborasi dengan manufaktur lokal, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Jadi saya rasa membangun kerja sama dengan manufaktur lokal sangatlah penting. Dan tentu saja, transfer kekayaan intelektual, kerangka kerja digital, dan keahlian teknis akan mendorong inovasi bersama,” ujarnya.
Lebih jauh, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan hilirisasi silika yang menjadi bahan baku utama pembuatan wafer untuk panel surya dan berbagai teknologi energi hijau.
Airlangga menilai Belarus memiliki kemampuan teknologi yang dapat mendukung agenda transisi energi Indonesia.
“Di antara bidang lainnya, Indonesia juga melirik hilirisasi silika, yang merupakan tulang punggung produk wafer, terutama untuk energi hijau seperti panel surya. Saya rasa Belarus juga memiliki teknologi yang kuat di bidang tersebut,” katanya.
Karena itu, Airlangga mengajak para pelaku usaha kedua negara memanfaatkan Forum Bisnis Indonesia-Belarus sebagai momentum membangun kemitraan baru yang mampu memperkuat daya saing industri sekaligus mempercepat transformasi ekonomi kedua negara.
“Oleh karena itu, saya mendorong para pemimpin bisnis dari Indonesia dan Belarus untuk menggunakan forum ini sebagai kesempatan untuk menjajaki kemitraan baru,” pungkasnya. (agr/nsi)