news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Polri..
Sumber :
  • Istimewa

Survei Terbuka IndexMundi Soal Posisi Polri, Peneliti Burhanuddin Muhtadi Singgung Hasil Akhirnya

Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi angkat bicara soal hasil survei dari IndexMundi Global Surveys tentang Polri.
Selasa, 7 Juli 2026 - 07:34 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Hasil survei dari IndexMundi Global Surveys belakangan ini memicu perbincangan publik setelah menempatkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam posisi tertinggi sebagai institusi yang dipersepsikan paling korup di Asia Tenggara. Namun, rilis data tersebut dinilai memerlukan catatan kritis dari sudut pandang akademis karena basis pengumpulan datanya yang dinilai lemah secara ilmiah.

Founder sekaligus Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menegaskan bahwa kritik utama bukan tertuju pada objek yang dinilai, melainkan pada validitas metodologi riset tersebut. 

Menurutnya, kegagalan metodologis membuat kesimpulan akhir dari survei itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara statistik.

"Kelemahan utama metodologi IndexMundi Global Surveys terletak pada penggunaan survei online terbuka (open web-based polling) tanpa kontrol sampel yang ketat," ujar Burhanuddin saat dihubungi media.

Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta itu menjabarkan, bahwa model pengumpulan data acak di internet tidak mencerminkan realitas populasi yang sebenarnya. 

"Data yang dihasilkan mencerminkan persepsi subjektif pengguna internet, bukan data statistik empiris yang terverifikasi secara ilmiah," lanjutnya.

Secara rinci, Burhanuddin membeberkan beberapa kelemahan mendasar dari sistem yang digunakan IndexMundi Global Surveys. 

Poin pertama yang menjadi sorotan ilmiah adalah adanya bias sampel (sampling bias). Partisipan riset ini sangat terbatas hanya pada individu yang memiliki akses internet, melek teknologi, dan memahami bahasa yang digunakan pada situs tersebut.

Kondisi ini menurutnya mengakibatkan sampel tidak representatif karena tidak dipilih melalui metode acak murni (random sampling) untuk mewakili keseluruhan demografi suatu negara, seperti proporsi usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, ataupun sebaran geografis.

Selain bias sampel, sistem pengumpulan data tersebut juga dinilai sangat rentan terhadap manipulasi atau self-selection bias. Mengingat partisipasinya bersifat sukarela (volunteer), siapa saja yang kebetulan berkunjung ke situs tersebut dapat mengisi instrumen yang disediakan. 

Dampaknya, opini yang terekam cenderung hanya berasal dari kelompok yang memiliki pandangan ekstrem, baik sangat kecewa maupun sangat puas.

"Tanpa verifikasi identitas, sistem pengisian yang longgar membuka celah bagi satu individu atau kelompok untuk mengisi survei berkali-kali menggunakan VPN atau perangkat berbeda guna memanipulasi peringkat negara tertentu," jelas Burhanuddin.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:25
01:36
01:26
01:20
01:27
01:27

Viral