- Antara
Garut Masuk Bahaya Zona Merah Judol dan PHK, Jadi Biang Kerok Perceraian Meningkat Tajam
Garut, tvOnenews.com - Pengadilan Agama Garut telah mencatat angka perceraian semakin melambung tinggi. Sebanyak 4.574 perkara perceraian terhitung sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026.
Dari data tersebut, sebanyak 3.809 perkara masuk kategori cerai gegat dari pihak istri. Sementara, 765 perkara berasal dari cerai talak pihak suami.
Panitera Pengadilan Agama Garut, Kosmara menyampaikan bahwa, data angka tersebut sebagai upaya meluruskan informasi liar yang sempat merebak di media sosial khususnya terkait jumlah perkara perceraian di Kabupaten Garut.
Dihimpun tvOnenews.com, Jumat (17/7/2026), seorang LBH sekaligus advokat, Sulton Muslim Haqqi menyampaikan bahwa, penyebab meningkatnya angka perceraian di Kabupaten Garut meliputi beberapa hal.
"Faktor yang melatarbelakangi beragam," ujar Sulton saat diwawancarai awak media, termasuk tvOnenews.com.
Ekonomi Melemah, Judol hingga PHK Biang Kerok Tingginya Perceraian di Garut
Ia menuturkan persoalan pertama. Faktor ekonomi masih menjadi latar belakang yang paling banyak ditemukan dalam perkara perceraian.
Kesulitan ekonomi menjadi salah satu pemicu utama perceraian lantaran menciptakan tekanan psikologis. Akibatnya, pasangan suami istri selalu mengalami stres.
Tekanan ini memicu pertengkaran terus-menerus. Motifnya tak lepas tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, hilangnya rasa saling percaya dalam pengelolaan uang, hingga ketidakmampuan salah satu pihak dalam memberikan nafkah.
Dampak dari kesulitan ekonomi berkaitan dari sejumlah kasus yang sering terjadi. Penurunan pendapatan keluarga disebabkan salah satu pihak mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Faktor yang melatarbelakangi beragam, mulai dari persoalan ekonomi, suami yang terkena PHK, pertengkaran rumah tangga," terangnya.
Selain itu, perkara yang sering terjadi dan menyebabkan tingginya angka perceraian imbas persoalan judi online (judol). Biasanya salah satu pihak yang mengalami kerugian tak mampu menafkahi pasangan maupun keluarganya.
"Dalam beberapa perkara, terdapat persoalan judi online yang turut menjadi pemicu konflik," katanya.
Fenomena seperti ini membuat Garut memasuki bahaya zona merah. Berbagai permasalahan mulai dari faktor ekonomi hingga terjerat judol sangat mempengaruhi meningkatnya angka perceraian.
Ia membagikan perjalanan LBH dari pihaknya di sepanjang awal tahun hingga pertengahan Juli 2026. Ia mengaku bahwa pihaknya bisa menangani 10-15 perkara perceraian per hari.